Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Segala macam kesibukan membuat saya benar-benar tak ada waktu untuk mengurus blog ini. Padahal cita-cita awal dibuatnya blog ini adalah untuk berbagi dan menginspirasi, berhubung saya mengalami hidup yang (menurut saya, entah menurut pembaca) istimewa, karena saya bekerja untuk mengasisteni pria istimewa yang mengejar-ngejar wanita istimewa yang saya harapkan jadi inspirasi penulisan blog.
Well.... Update status dulu lah setelah 1 tahun absen..
Status masih tetap lajang dengan 1 pacar resmi, 2 tidak resmi (see? Paham sekarang kenapa saya tak ada waktu untuk mengurus blog :D )
Pekerjaan masih tetap asisten pribadi presiden perusahaan yang dulu (kapan ya naik pangkat?)
Domisili masih berterbangan ke berbagai tempat
Saya bingung akan mengentri tulisan apa, sudah saya sebutkan bahwa inspirasi saya adalah bos dan wanitanya. Inspirasi itu hilang, sejak bos sudah malas mengejar wanita itu lagi. Masuk akal kalau si bos putus asa, itu perempuan dikejar setengah mati, lari terus setengah mampus.
Kami, laki-laki, memang makhluk bermuka tebal yang akan selalu mengejar apa yang diinginkan, tapi kalau sudah sampai sekitar 7 tahun mengejar hal yang sama dan belum juga dapat, capek, frustasi dan hilang harga diri :D
Saya belum ada inspirasi saat ini, saya tak yakin teman pembaca mau tahu tumpukan pekerjaan yang sedang kami bereskan, bukan juga jadwal-jadwal kami seminggu ke depan. Jadi, saya ingin ucapkan terima kasih untuk yang kunjungi blog tak terawat ini, terutama Miss Afro yang berikan saya award dan tidak bisa diambil karena blognya disabotase situs pencuri bandwith sehingga saya kesulitan masuk.
Nah! Saya teringat sesuatu, ini seru untuk diposting! Tapi tidak sekarang. Jadi, rajin-rajin kunjungi dan periksa apa saya sudah entri cerita seru ini.
Jumat, 12 Agustus 2011
Selasa, 15 Juni 2010
Perempuan dan Uang
Sepulang makan siang tadi, saya melihat sepasang kekasih bertengkar di trotoar. Si perempuan murka bukan kepalang, sementara si lelaki mencoba menjelaskan/menenangkan entahlah. Heboh sekali sepertinya. Saya sempat melihat si perempuan melepaskan cincin dan membuang benda itu ke saluran air. Saya menggeleng...Perempuan......
Saya jadi ingat pada kenyataan bahwa saya harus membelikan cincin berlian (bermata besar, dengan pengikat emas putih) tiga kali untuk satu perempuan yang sama; Lissandre. Pasalnya apalagi kalau bukan karena dia membuang cincinnya ke got, sungai, dan yang terakhir ke -apa sih itu namanya dalam bahasa Indonesia?? Saya mendadak lupa- ke tempat manusia buang hajat! Closet!
Saya heran dengan habit perempuan; kalau murka mereka seenak jidatnya membuang cincin ke jamban, setelah berhasil dirayu saya dihadiahi ciuman dahsyat tapi sialnya dia sambil minta cincin yang baru, dan sewaktu saya bilang 'okay honey', mereka buru-buru menjelaskan "Jangan bikin aku malu ya? Harus yang bermata besar dan bagus!"
Berapa tuh harganya??
Perempuan dengan emosional membuang cincin bak limbah, terkadang ngamuk melempar vas, melempar guci, piring, gelas, bahkan ponsel. Saya ingat pernah berhasil menangkap ponsel canggih yang Lissandre lempar sewaktu ngamuk, kalau saya berhasil menangkap dia akan melempar sesuatu yang lain. See?? Perempuan adalah makhluk yang terlahir untuk membuang uang, sementara pria tercipta untuk mencarinya.
Tak apalah kalau uang yang kami (para pria) cari mereka gunakan untuk menghias diri, menghias rumah, menghias anak, habiskan di mall atau kegiatan amal. Asal jangan itu uang dibuang, dibakar, dihanyutkan ke sungai apalagi dibuang ke closet. C'mon... masih terlalu banyak di dunia ini orang-orang kurang beruntung yang tidak punya makanan untuk isi perut hari ini, ada banyak anak-anak yang jangankan minum susu, makan bubur saja susah.
Jadi girls, saran saya, kalau kamu putus nanti sama pacar kamu. Jangan dibuang cincin tunangannya ya... jual saja ke toko, lalu uangnya masukkan ke kotak amal. Itu lebih baik daripada kamu siram ke toilet. Mubazir... kata orang tua, mubazir itu temannya setan.
Saya heran dengan habit perempuan; kalau murka mereka seenak jidatnya membuang cincin ke jamban, setelah berhasil dirayu saya dihadiahi ciuman dahsyat tapi sialnya dia sambil minta cincin yang baru, dan sewaktu saya bilang 'okay honey', mereka buru-buru menjelaskan "Jangan bikin aku malu ya? Harus yang bermata besar dan bagus!"
Berapa tuh harganya??
Perempuan dengan emosional membuang cincin bak limbah, terkadang ngamuk melempar vas, melempar guci, piring, gelas, bahkan ponsel. Saya ingat pernah berhasil menangkap ponsel canggih yang Lissandre lempar sewaktu ngamuk, kalau saya berhasil menangkap dia akan melempar sesuatu yang lain. See?? Perempuan adalah makhluk yang terlahir untuk membuang uang, sementara pria tercipta untuk mencarinya.
Tak apalah kalau uang yang kami (para pria) cari mereka gunakan untuk menghias diri, menghias rumah, menghias anak, habiskan di mall atau kegiatan amal. Asal jangan itu uang dibuang, dibakar, dihanyutkan ke sungai apalagi dibuang ke closet. C'mon... masih terlalu banyak di dunia ini orang-orang kurang beruntung yang tidak punya makanan untuk isi perut hari ini, ada banyak anak-anak yang jangankan minum susu, makan bubur saja susah.
Jadi girls, saran saya, kalau kamu putus nanti sama pacar kamu. Jangan dibuang cincin tunangannya ya... jual saja ke toko, lalu uangnya masukkan ke kotak amal. Itu lebih baik daripada kamu siram ke toilet. Mubazir... kata orang tua, mubazir itu temannya setan.
Para Pemenang Bingung ya? Tentang Peraturan Award itu?
Lama juga saya tidak tengok blog ini, ternyata para pemenang yang saya anugerahi award banyak yang bingung tentang peraturan yang menyertai award itu (yang cukup ngerjai para pemenangnya). Jadi begini....
Saya hutang permintaan maaf karena belum posting dan belum kunjung lagi ke blog teman-teman. Mohon pengertiannya ya!
- Para pemenang harus me-link si pemberi award (dalam hal ini saya; Andrez Moreno), untuk berterima kasih.
- Pilihlah 15 blog yang menurut teman2 bagus, cantik, atau apalah.... untuk teman2 anugerahi award itu selanjutnya.
- Beritahu ke-15 blogger pemenang yang terpilih tersebut, dan beritahu mereka bahwa mereka dapat award dari you fren!
- Kamu... (ya kamu!) pemenang award dari saya harus menulis 7 hal tentang diri kamu sendiri.
Saya hutang permintaan maaf karena belum posting dan belum kunjung lagi ke blog teman-teman. Mohon pengertiannya ya!
Senin, 07 Juni 2010
Mengumpulkan Pe-Er

Maaf bu.. maaf pak.... Ini saya serahkan tugasnya. Maaf terlambat, jangan dijewer ya??
Saya repot belakangan, menjamu tamu cantik yang menjenguk Mr. President, belum lagi tumpukan kerjaan yang kontan melangit. Sekarang balik lagi ke Jakarta, mengantar nyonya cantik pulang.... dia biasa pulang-pergi ke sini sendiri sebenarnya. Tapi kali ini saya merasa 'berhutang budi' dan tidak tega melihat ibu muda sendirian dengan balita nakal naik pesawat komersil belasan jam. Itu bocah lelaki merepotkan ampun-ampunan, membuat pesawat heboh lebih heboh dari pesawat yang dibajak teroris. Saya masih heran dengan orang yang bercita-cita punya anak sekompi. Satu saja bisa meledakkan pesawat!
Saya repot belakangan, menjamu tamu cantik yang menjenguk Mr. President, belum lagi tumpukan kerjaan yang kontan melangit. Sekarang balik lagi ke Jakarta, mengantar nyonya cantik pulang.... dia biasa pulang-pergi ke sini sendiri sebenarnya. Tapi kali ini saya merasa 'berhutang budi' dan tidak tega melihat ibu muda sendirian dengan balita nakal naik pesawat komersil belasan jam. Itu bocah lelaki merepotkan ampun-ampunan, membuat pesawat heboh lebih heboh dari pesawat yang dibajak teroris. Saya masih heran dengan orang yang bercita-cita punya anak sekompi. Satu saja bisa meledakkan pesawat!
Karena nama si award ini; BEAUTIFUL BLOGGER AWARD, tidak adil rasanya kalau saya hanya melihat sisi beauty dari tampilan blognya atau tampilan si empunya blog, sehingga saya buat 3 kategori. And the awards goes to:
Kategori Blog inspiratif:
frau-rhe
flores blogger
Amateur_Blogger
Kategori Blog edukatif & informatif:
belajar ngeblog
Run-D BLoG
YUDHAIME's BLOG
OKU Timur News
Kategori Blog kreatif (eye catching):
Rinda's Blog
positively innOcent
Queenielady ======) love your quotes!
written in the stars
lovtoshr
pitacily's piece of cake
Life is Love, and Love is Red =====) love your nasionalism!
Cathy's Diary
Syarat dan ketentuan bagi pemenang silakan lihat di posting "First Award" <=== just click it! Itu dia 15 blogger yang saya follow dan saya pikir berhak atas award kali ini. Buat teman blogger yang belum dapat, mudah-mudahan masuk nominasi award selanjutnya ya! Sebenarnya saya follow blog kalian saja itu berarti blog teman-teman cukup menarik dan pantas di-award-i, tapi berhubung peraturannya cuma 15 blog yang berhak, apa mau dikata? Maaf juga untuk teman-teman yang baru saya follow hari ini tidak saya masukkan sebagai pemenang award.
Dan bagi mereka yang sudah pernah mendapat award yang sama sebelumnya, mohon maaf saya tidak mungkin cek hal itu satu per satu.
Thank's for Reading!
Minggu, 30 Mei 2010
Saya Pulang Kampung!!
Saya pulang ke Indonesia. What for?
Peluru terakhir yang saya tembakkan ke Mrs. Re untuk memaksa dia datang menjenguk bos akhirnya kena sasaran. Setelah beberapa kali akal-akalan dan selalu kecewa, akhirnya misil terakhir sukses. Apa itu misi terakhir yang sukses? Posting tentang "Challenge of The Week..."
Saya link posting itu ke wall Mrs. Re dan beberapa jam kemudian dia menerima challenge-nya.So, here I am untuk menjemput beliau. Tentu saya tidak pamit pada Mr. President, biar menjadi surprise.
Si nyonya cantik itu bisa saja datang sendiri ke sini, tapi setelah perjuangan panjang yang melelahkan (am I too much??), saya mau memastikan semua lancar dan baik-baik saja. Saya mau dia menikmati penerbangan belasan jam, sempurna sehingga begitu tiba di rumah sakit dia tampil prima, dan bukannya cemberut. Nah, kalau ada award "Ajudan Terbaik Sejagat Raya", saya pasti pemenangnya.
Mohon maaf untuk yang menantikan pengumuman award, saya belum sempat. Tunggu sebentar lagi, Sob!
Thank you very much for this relationship!
Si nyonya cantik itu bisa saja datang sendiri ke sini, tapi setelah perjuangan panjang yang melelahkan (am I too much??), saya mau memastikan semua lancar dan baik-baik saja. Saya mau dia menikmati penerbangan belasan jam, sempurna sehingga begitu tiba di rumah sakit dia tampil prima, dan bukannya cemberut. Nah, kalau ada award "Ajudan Terbaik Sejagat Raya", saya pasti pemenangnya.
Mohon maaf untuk yang menantikan pengumuman award, saya belum sempat. Tunggu sebentar lagi, Sob!
Thank you very much for this relationship!
Rabu, 26 Mei 2010
Challenge of The Week! Untuk Anda yang Mengaku Sudah Melupakan Mantan

Saya heran dengan orang-orang yang berpisah dengan pasangannya lalu beberapa waktu kemudian dengan wajah sumringah berkata bahagia dengan hidup sekarang dan sudah melupakan sama sekali tentang si masa lalu. Tapi nyatanya lari dari momen-momen yang sekiranya akan mempertemukan mereka, seperti; pesta pernikahan kawan yang dia tahu persis si mantan di undang juga, acara reuni atau pesta ulang tahun si mantan itu sendiri, atau... kabar bahwa si mantan sedang menggeletak di rumah sakit.
Kenapa enggan datang dengan segala pembenaran yang dibuat-buat?? Bukannya anda sudah melupakan dia? Katanya sudah rela, ikhlas... dan anda bilang dengan gagah berani bahwa mantan itu sudah 'nggak ngaruh' lagi di hidup anda. Lantas kenapa takut ketemu??? Dalam perspektif saya ketidakmauan bertemu mantan itu disebabkan karena pesona si mantan masih begitu kuat bagi anda, sehingga anda takut kalau bertemu dengannya lagi maka anda akan terjerat, dan makin sulit melupakan dia atau bahkan tergoda untuk kembali ke pelukannya yang -ehm! tiada duanya bukan? Buktinya anda masih sendiri setelah sekian lama lari dari dia-. Akui saja bahwa itu yang sesungguhnya. Anda masih mengenang bagaimana tubuh berkemeja L size merengkuh tubuh kecil anda, cara tangan besarnya menelan telapak tangan anda, hangat nafasnya menyapu kulit wajah dan vibra suaranya yang 'lelaki' membisiki anda kata cinta. Taruhan! Anda pasti masih rindu aromanya ketika pulang kerja di malam hari.
Membaca posting ini pasti anda keki, ingin nonjok saya dan berteriak; Your statements are completely FAULT, Andrez!! Saya perempuan smart yang logis, independent dan tough, perpisahan dan kegagalan bisa saya akomodasi dengan mudah. Meski wanita, tapi saya tidak dikendalikan emosi, dan tidak ada pesona pria manapun yang membuat saya lembek, apalagi si mantan!
Okay then! Buktikan! Saya tantang anda untuk datang ke acara yang akan menemukan anda dengan mantan. Berani menjenguknya di rumah sakit?
Are you dare??? Let me know!
Membaca posting ini pasti anda keki, ingin nonjok saya dan berteriak; Your statements are completely FAULT, Andrez!! Saya perempuan smart yang logis, independent dan tough, perpisahan dan kegagalan bisa saya akomodasi dengan mudah. Meski wanita, tapi saya tidak dikendalikan emosi, dan tidak ada pesona pria manapun yang membuat saya lembek, apalagi si mantan!
Okay then! Buktikan! Saya tantang anda untuk datang ke acara yang akan menemukan anda dengan mantan. Berani menjenguknya di rumah sakit?
Are you dare??? Let me know!
Senin, 24 Mei 2010
First Award
Niat awalnya saya sekedar mau cek siapa yang kunjung dan meninggalkan jejak di Cbox, membalas sahutan mereka di sana, dan mengunjungi balik. Tidak ada niat untuk posting, situasi super repot di sini. Tapi berhubung ada pemberitahuan bahwa saya dapat award, tentulah berubah pikiran!
Hehe... Am I childish? Here you are my very first award!
Ini award atas prestasi apa? Tidak tahu... teman blogger saya si Cumi cayang yang meng-award-i saya ini. Judulnya Beautiful Blogger Award, berhubung saya ganteng mungkin itu sebabnya si Cumi memutuskan sebagai salah satu pemenang dari 15 blogger lain. Jadi saya ambil suka ria, bagaimana cara ambilnya? Karena tidak tahu jadi saya save dan dimunculkan di sini.Tapi diselipkan beberapa rules bersamaan dengan award ini, sebenarnya rules ditulis dalam bahasa Inggris, saya terjemahkan biar membumi:
- Saya harus me-link dan berterima kasih kepada si pemberi award. Ok, terima kasih Cumi.... saya pajang sekalian link si Cumi itu di sini, punya si Cumi silakan klik untuk lihat si Cumi cantik.
- Anugerahkan award ini kepada 15 blogger yang saya temukan dan menurut saya bagus. Yang ini agak-agak ngerjain... nantilah, ini saya jadikan PR saja.
- Hubungi ke-15 blog tersebut dan beritahu bahwa mereka mendapat award. PR juga.
- Nyatakan 7 hal tentang diri saya.
Here you are, things about me: Look good, Smell good, Workaholic, Womenaholic, Loyal, Royal, Liberal.
Terima kasih kepada Cumi yang menganugerahkan award ini. Selamat juga untuk Cumi yang mendapat award ini dari Intan Qanita.
Jumat, 21 Mei 2010
Molto Matto; Why now??
Kami (Lissandre dan saya) sedang dalam posisi yang molto matto (very crazy) sewaktu ponsel saya yang siaga selama 24/7 mendadak berdering membuat kami bertatapan, Lissandre kontan memberi tanda 'jangan diangkat!' sedangkan saya serba salah lalu mengangguk dan membiarkan Lissandre meneruskan aktivitas yang matto itu. Tapi ponsel berdering terus, bikin saya mengumpat dalam hati, dalam posisi dikuasai Lissandre, tangan saya mencoba meraih ponsel siaaaaal! itu.
Rumahnya Mr. President yang menelepon.
Gila, jam berapa ini? Saya tahu persis Mr. President bukan tipe atasan yang suka merepotkan asistennya, selama beliau bisa menangani akan beliau tangani, sekian tahun bekerja sebagai tangan kanannya, mana pernah malam saya diganggu kalau bukan hal urgent semacam pabrik meledak dan hal lain sekelas itu tingkat kegentingannya. Jadi, ketika melihat telepon rumah beliau yang menelepon, kontan jantung saya melonjak, dan hasrat drop seketika. Tak tega pada Lissandre, saya membiarkan malaikat nakal itu meneruskan aktivitasnya. Sayangnya Lissandre benar-benar nakal malam itu, saya setengah mampus menjaga nada suara supaya jangan bergetar dan terdengar berwibawa sewaktu menyapa; "Selamat malam."
"Malam signor Moreno. Saya Connie, maaf mengganggu tapi sepertinya anda harus tahu, tadi signor jatuh, dan supir membawanya ke rumah sakit." Salah satu pembantu di rumah Mr. President nyerocos mengabarkan berita buruk, gila! Kenapa sekarang? Di saat saya lagi.......
"Jatuh??" tanya saya memastikan.
"Pingsan. Nyaris. Saya sempat memeganginya."
Entah karena kondisi saya saat itu atau otak saya memang cepat banget ngeres, jadi waktu Connie bilang 'saya sempat memeganginya', otak saya malah membayangkan Connie memegangi -tuuut..sensor- nya. Bersamaan dengan itu pula saya bereaksi menyingkirkan Lissandre, dan menuju lemari pakaian.
"Oh Dio... Andrez!" pekik Lissandre, saya heran bagaimana itu perempuan bisa menyebut 'Dio=Tuhan' saat sedang melakukan dosa.
"Rumah sakit mana?" saya sudah menyambar pakaian sekenanya dari lemari dan memakai dengan kalap, tentunya dibawah tatapan Lissandre yang tak sanggup saya balik menatapnya.
"San Pietro."
"Saya ke sana." sambungan saya matikan, lagian saya perlu dua tangan untuk memasang kancing kemeja.
"Andrez.... ini tengah malam, dan kita baru saja sempat ketemu." Lissandre merengek. Saya juga merengek dalam hati, yang tadi itu benar-benar sedang super hot.
"Lissandre, di kontrak kerja saya dengan manajer HRD, saya sepakat menyerahkan waktu saya 24 jam selama 7 hari untuk Mr. President."
"Dia meminta kamu datang??" suara Lissandre sudah naik beberapa oktaf.
"Tidak. Pembantunya cuma memberitahu, tapi etikanya..."
"Oh Dio, Andrez!! Persetan dengan etika! Bayangkan! Kita lagi bercinta, Andrezz!! Masak kamu mendadak pergi begitu saja??"
"Itu bisa dilanjutkan. Sampai nanti, sayang, cantik!"
Lissandre menolak saya cium, biarlah! Nanti juga ngambeknya reda. Tapi sewaktu saya memakai sepatu dia berteriak; "kalau aku mau melahirkan dan bersamaan itu dia mati, apa kamu pergi untuk datang ke dia?"
"Kalau dia mati berarti saya pengangguran. Tentu saya temani kamu."
Dasar... kenapa perempuan susah sekali memahami resiko pekerjaan pasangannya? Tak habis pikir saya... Mereka memburu pasangan yang ganteng, mapan dengan pekerjaan bagus di perusahaan ternama, tapi kalau mereka mendapati pasangannya lembur di saat weekend, atau haru mendadak pergi sewaktu lagi bercinta macam tadi... kenapa mereka marah?
Kalau mereka tak mau punya pasangan yang sibuk, pacari saja laki-laki dengan pekerjaan biasa, yang gajinya juga biasa. Tapi laki-laki jenis itu malah tak dilirik oleh mereka.
Jadilah kepala saya berdenyut, dan tentu 'anu' saya juga berdenyut sewaktu saya ngebut ke rumah sakit itu. Tak lupa saya kabari Mrs. Re bahwa beliau masuk rumah sakit. Reaksinya? Menulis begini di wallnya:
Beribadahlah seolah akan mati besok, bekerjalah seakan hidup selamanya. Bergaya hidup sehatlah agar hasil kerja tidak untuk dibawa ke rumah sakit. Bawalah dia ke panti asuhan atau BAZIS. Sampaikan pada orang terdekatmu.
Saya mencoba membujuk dan akal-akali perempuan satu ini, tapi gagal. Dia sekeras batu, kalau saja saya punya hammer (apa itu dalam bahasa Indonesia? saya lupa)..
Dan beginilah... pagi-pagi, di sudut cafetaria rumah sakit, saya mengetik ini. Selain itu saya juga mau menyampaikan:
Terima kasih untuk yang menyukai kisah hidup saya yang weird ini.
Terima kasih untuk yg bilang posting saya hilarious, funny.
Terima kasih yang sudah mau follow saya.
Maaf tidak seperti blog teman-teman yang lain, berisi banyak ilmu yang berguna, blog saya cuma berisi kejadian sehari-hari. Tapi percayalah, di setiap posting saya sebenarnya ada paragraf yang saya ingin pembaca renungi. Sebenarnya ini bukan sekedar serita hidup seorang asisten Presiden yang playboy dan ngeres, can you find out?
Happy Reading!
Thank you. Grazie. Terima kasih.
Rumahnya Mr. President yang menelepon.
Gila, jam berapa ini? Saya tahu persis Mr. President bukan tipe atasan yang suka merepotkan asistennya, selama beliau bisa menangani akan beliau tangani, sekian tahun bekerja sebagai tangan kanannya, mana pernah malam saya diganggu kalau bukan hal urgent semacam pabrik meledak dan hal lain sekelas itu tingkat kegentingannya. Jadi, ketika melihat telepon rumah beliau yang menelepon, kontan jantung saya melonjak, dan hasrat drop seketika. Tak tega pada Lissandre, saya membiarkan malaikat nakal itu meneruskan aktivitasnya. Sayangnya Lissandre benar-benar nakal malam itu, saya setengah mampus menjaga nada suara supaya jangan bergetar dan terdengar berwibawa sewaktu menyapa; "Selamat malam."
"Malam signor Moreno. Saya Connie, maaf mengganggu tapi sepertinya anda harus tahu, tadi signor jatuh, dan supir membawanya ke rumah sakit." Salah satu pembantu di rumah Mr. President nyerocos mengabarkan berita buruk, gila! Kenapa sekarang? Di saat saya lagi.......
"Jatuh??" tanya saya memastikan.
"Pingsan. Nyaris. Saya sempat memeganginya."
Entah karena kondisi saya saat itu atau otak saya memang cepat banget ngeres, jadi waktu Connie bilang 'saya sempat memeganginya', otak saya malah membayangkan Connie memegangi -tuuut..sensor- nya. Bersamaan dengan itu pula saya bereaksi menyingkirkan Lissandre, dan menuju lemari pakaian.
"Oh Dio... Andrez!" pekik Lissandre, saya heran bagaimana itu perempuan bisa menyebut 'Dio=Tuhan' saat sedang melakukan dosa.
"Rumah sakit mana?" saya sudah menyambar pakaian sekenanya dari lemari dan memakai dengan kalap, tentunya dibawah tatapan Lissandre yang tak sanggup saya balik menatapnya.
"San Pietro."
"Saya ke sana." sambungan saya matikan, lagian saya perlu dua tangan untuk memasang kancing kemeja.
"Andrez.... ini tengah malam, dan kita baru saja sempat ketemu." Lissandre merengek. Saya juga merengek dalam hati, yang tadi itu benar-benar sedang super hot.
"Lissandre, di kontrak kerja saya dengan manajer HRD, saya sepakat menyerahkan waktu saya 24 jam selama 7 hari untuk Mr. President."
"Dia meminta kamu datang??" suara Lissandre sudah naik beberapa oktaf.
"Tidak. Pembantunya cuma memberitahu, tapi etikanya..."
"Oh Dio, Andrez!! Persetan dengan etika! Bayangkan! Kita lagi bercinta, Andrezz!! Masak kamu mendadak pergi begitu saja??"
"Itu bisa dilanjutkan. Sampai nanti, sayang, cantik!"
Lissandre menolak saya cium, biarlah! Nanti juga ngambeknya reda. Tapi sewaktu saya memakai sepatu dia berteriak; "kalau aku mau melahirkan dan bersamaan itu dia mati, apa kamu pergi untuk datang ke dia?"
"Kalau dia mati berarti saya pengangguran. Tentu saya temani kamu."
Dasar... kenapa perempuan susah sekali memahami resiko pekerjaan pasangannya? Tak habis pikir saya... Mereka memburu pasangan yang ganteng, mapan dengan pekerjaan bagus di perusahaan ternama, tapi kalau mereka mendapati pasangannya lembur di saat weekend, atau haru mendadak pergi sewaktu lagi bercinta macam tadi... kenapa mereka marah?
Kalau mereka tak mau punya pasangan yang sibuk, pacari saja laki-laki dengan pekerjaan biasa, yang gajinya juga biasa. Tapi laki-laki jenis itu malah tak dilirik oleh mereka.
Jadilah kepala saya berdenyut, dan tentu 'anu' saya juga berdenyut sewaktu saya ngebut ke rumah sakit itu. Tak lupa saya kabari Mrs. Re bahwa beliau masuk rumah sakit. Reaksinya? Menulis begini di wallnya:
Beribadahlah seolah akan mati besok, bekerjalah seakan hidup selamanya. Bergaya hidup sehatlah agar hasil kerja tidak untuk dibawa ke rumah sakit. Bawalah dia ke panti asuhan atau BAZIS. Sampaikan pada orang terdekatmu.
Saya mencoba membujuk dan akal-akali perempuan satu ini, tapi gagal. Dia sekeras batu, kalau saja saya punya hammer (apa itu dalam bahasa Indonesia? saya lupa)..
Dan beginilah... pagi-pagi, di sudut cafetaria rumah sakit, saya mengetik ini. Selain itu saya juga mau menyampaikan:
Terima kasih untuk yang menyukai kisah hidup saya yang weird ini.
Terima kasih untuk yg bilang posting saya hilarious, funny.
Terima kasih yang sudah mau follow saya.
Maaf tidak seperti blog teman-teman yang lain, berisi banyak ilmu yang berguna, blog saya cuma berisi kejadian sehari-hari. Tapi percayalah, di setiap posting saya sebenarnya ada paragraf yang saya ingin pembaca renungi. Sebenarnya ini bukan sekedar serita hidup seorang asisten Presiden yang playboy dan ngeres, can you find out?
Happy Reading!
Thank you. Grazie. Terima kasih.
Kamis, 20 Mei 2010
Cinta Vs Obsesi
Ada yang tahu apa perbedaan Cinta dengan Obsesi?
Ada quotes yang bilang cinta itu tidak harus memiliki. Koq kalau menurut saya quotes itu bodoh ya... pasalnya kalau cinta itu tidak dimiliki, menurut saya lama-lama jadi luntur itu cinta. Cinta saya terhadap dua pacar saya terus hidup di hati saya, dan kian berkembang sebab saya memiliki mereka, melihat, mendengar suaranya, dan menyentuh raganya. Saya tak yakin akan tetap mencintai dia -ralat, mereka- kalau saya berhenti memiliki mereka. Pastilah saya akan melupakan dia -salah lagi... mereka- lantas cari yang lain. Lantas mencintai si 'yang lain dan baru' itu.
Jadi, cinta harus memiliki! Setuju?
Terserah mau setuju atau tidak. Tapi dari sekian banyak perbincangan saya dengan Mr. President, salah satu yang kami berdua setuju adalah quotes; Cinta harus memiliki. Tapi dengan perspektif yang berbeda.
Kalau dari perspektif saya, itu di atas tadi; bahwa kalau tidak memiliki maka cinta saya akan luntur. Sementara kalau perspektif Mr. President, bahwa kalau tidak memiliki cinta yang dia damba, maka hidup tidak sempurna, matipun penasaran. Mungkin (ini perkiraan saya saja), itu disebabkan karena beliau tipikal orang yang menyukai tantangan, tak pernah tidak meraih impian-impiannya, dan challenger sejati.
Fren.. tahu kan kalau atasan saya itu sedang sakit? Setelah berhari-hari memaksakan tetap bekerja, dan datang ke kantor, akhirnya kemarin beliau tepar benar-benar. Memberitahu saya bahwa tidak bisa ke kantor, dan 'Andrez, please datanglah ke sini'.
Untuk apa?
Beliau kerja!! KERJA, guys!! Sudah tepar-klenger burger begitu! Masih kerja sambil menggeletak di sofa. Laptop, mesin fax, ponsel 3G, kotak tisyu, kompresan, semuanya dia pindahkan ke atas meja di dekat sofa itu. Heran saya..... padahal sebelah tangannya diinfus!
Setengah mati saya mencerocos membujuk agar beliau ke rumah sakit, pasti dokternya sudah mencerocos duluan tentang ini.
Hal lain yang membuat saya heran adalah beliau di apartemen, bukan di rumahnya. Di momen-momen tertentu beliau memang suka menyendiri di apartemen itu. Dan hari itu, karena beliau 'memindahkan kantor ke apartemennya', dan saya sebagai asistem pribadi mesti senantiasa mendampingi, saya menghabiskan banyak waktu di tempat itu dan mau tak mau mata saya mengeksplorasi sekitar, saya jadi tahu kenapa di momen tertentu beliau suka sekali mengurung di tempat itu.
HAHA..... sebagai sesama pria saya sebenarnya pingin ngakak sekencang-kencangnya, tapi berhubung saya belum mau luntang-lantung cari pekerjaan lain, jadilah saya tahan keinginan itu.
You know what??
Itu apartemen atau musium??
Lukisan cat minyak; Gambar Mrs. Re
Lukisan kanvas raksasa; lukisan Mrs. Re
Frame besar-besar; foto Mrs. Re
Frame kecil-kecil di meja-meja hias, di meja telepon, di atas perapian, etc; juga foto-foto Mrs. Re
Mouse pad; muka Mrs. Re close-up
Print di mug; Mrs. Re
Print di cangkir; Mrs Re juga....
Bahkan dia punya Puzzle foto Mrs. Re!!!
Edan!
Saya menggeleng-geleng, sambil berpikir untuk melorotin celana panjang beliau. Kalau trend fashion yang digemari perempuan beberapa waktu lalu adalah animal print, jangan-jangan dia pakai boxer 'Mrs. Re-Print'.
Saya heran, beneran! Takjub tapi merasa ini konyol dan kocak sekaligus. Masih ada lelaki yang cinta satu wanita?? Bah! Yang benar saja... Pria itu ditakdirkan poligami; baik dengan cara legal maupun ilegal (jadi ladies... kalau pasangan kalian tidak selingkuh, waspadalah, jangan-jangan dia nggak waras). Cuma Nabi Adam yang tak poligami, dia mau poligami sama siapa? Nggak ada lagi manusia selain Adam-Hawa waktu itu. Saya yakin kalau ada betina lain di masa itu, pastilah Adam sudah selingkuh dengan wanita itu.
Akhirnya sewaktu istirahat makan siang, dan beliau minum teh dari cangkir dengan print muka Mrs. Re, saya tidak sanggup lagi menahan mulut laknat saya untuk tidak komentar.
"Signor, cinta atau obsesi?" tanya saya menunjuk cangkir tehnya.
"Ada obsesi di cinta," jawabnya, saya tidak sepaham.
"Itu dua hal yang beda; Saya cinta Lissandre (salah satu pacar saya), tapi kalau dia minta putus, saya lepaskan. Dan saya terobsesi untuk tidur dengan Megan Fox (ini betul saya sudah lakukan berbagai cara untuk mewujudkannya) tapi tidak mau menikah dengannya."
"You sick.." komentar Mr. President kalem.
"You sick!" balas saya sambil heran.
"Saya tidak meniduri yang tidak saya cintai," Mr. President membela diri.
"Saya meniduri yang saya mau, saya nikahi yang saya cintai, hidup jadi mudah." Tukas saya.
"You sick..." desis beliau lagi.
"You sick!" tuding saya pada infusannya.
Siapa yang 'sick' sebagai pria menurut kalian, friends?
Jadi, cinta harus memiliki! Setuju?
Terserah mau setuju atau tidak. Tapi dari sekian banyak perbincangan saya dengan Mr. President, salah satu yang kami berdua setuju adalah quotes; Cinta harus memiliki. Tapi dengan perspektif yang berbeda.
Kalau dari perspektif saya, itu di atas tadi; bahwa kalau tidak memiliki maka cinta saya akan luntur. Sementara kalau perspektif Mr. President, bahwa kalau tidak memiliki cinta yang dia damba, maka hidup tidak sempurna, matipun penasaran. Mungkin (ini perkiraan saya saja), itu disebabkan karena beliau tipikal orang yang menyukai tantangan, tak pernah tidak meraih impian-impiannya, dan challenger sejati.
Fren.. tahu kan kalau atasan saya itu sedang sakit? Setelah berhari-hari memaksakan tetap bekerja, dan datang ke kantor, akhirnya kemarin beliau tepar benar-benar. Memberitahu saya bahwa tidak bisa ke kantor, dan 'Andrez, please datanglah ke sini'.
Untuk apa?
Beliau kerja!! KERJA, guys!! Sudah tepar-klenger burger begitu! Masih kerja sambil menggeletak di sofa. Laptop, mesin fax, ponsel 3G, kotak tisyu, kompresan, semuanya dia pindahkan ke atas meja di dekat sofa itu. Heran saya..... padahal sebelah tangannya diinfus!
Setengah mati saya mencerocos membujuk agar beliau ke rumah sakit, pasti dokternya sudah mencerocos duluan tentang ini.
Hal lain yang membuat saya heran adalah beliau di apartemen, bukan di rumahnya. Di momen-momen tertentu beliau memang suka menyendiri di apartemen itu. Dan hari itu, karena beliau 'memindahkan kantor ke apartemennya', dan saya sebagai asistem pribadi mesti senantiasa mendampingi, saya menghabiskan banyak waktu di tempat itu dan mau tak mau mata saya mengeksplorasi sekitar, saya jadi tahu kenapa di momen tertentu beliau suka sekali mengurung di tempat itu.
HAHA..... sebagai sesama pria saya sebenarnya pingin ngakak sekencang-kencangnya, tapi berhubung saya belum mau luntang-lantung cari pekerjaan lain, jadilah saya tahan keinginan itu.
You know what??
Itu apartemen atau musium??
Lukisan cat minyak; Gambar Mrs. Re
Lukisan kanvas raksasa; lukisan Mrs. Re
Frame besar-besar; foto Mrs. Re
Frame kecil-kecil di meja-meja hias, di meja telepon, di atas perapian, etc; juga foto-foto Mrs. Re
Mouse pad; muka Mrs. Re close-up
Print di mug; Mrs. Re
Print di cangkir; Mrs Re juga....
Bahkan dia punya Puzzle foto Mrs. Re!!!
Edan!
Saya menggeleng-geleng, sambil berpikir untuk melorotin celana panjang beliau. Kalau trend fashion yang digemari perempuan beberapa waktu lalu adalah animal print, jangan-jangan dia pakai boxer 'Mrs. Re-Print'.
Saya heran, beneran! Takjub tapi merasa ini konyol dan kocak sekaligus. Masih ada lelaki yang cinta satu wanita?? Bah! Yang benar saja... Pria itu ditakdirkan poligami; baik dengan cara legal maupun ilegal (jadi ladies... kalau pasangan kalian tidak selingkuh, waspadalah, jangan-jangan dia nggak waras). Cuma Nabi Adam yang tak poligami, dia mau poligami sama siapa? Nggak ada lagi manusia selain Adam-Hawa waktu itu. Saya yakin kalau ada betina lain di masa itu, pastilah Adam sudah selingkuh dengan wanita itu.
Akhirnya sewaktu istirahat makan siang, dan beliau minum teh dari cangkir dengan print muka Mrs. Re, saya tidak sanggup lagi menahan mulut laknat saya untuk tidak komentar.
"Signor, cinta atau obsesi?" tanya saya menunjuk cangkir tehnya.
"Ada obsesi di cinta," jawabnya, saya tidak sepaham.
"Itu dua hal yang beda; Saya cinta Lissandre (salah satu pacar saya), tapi kalau dia minta putus, saya lepaskan. Dan saya terobsesi untuk tidur dengan Megan Fox (ini betul saya sudah lakukan berbagai cara untuk mewujudkannya) tapi tidak mau menikah dengannya."
"You sick.." komentar Mr. President kalem.
"You sick!" balas saya sambil heran.
"Saya tidak meniduri yang tidak saya cintai," Mr. President membela diri.
"Saya meniduri yang saya mau, saya nikahi yang saya cintai, hidup jadi mudah." Tukas saya.
"You sick..." desis beliau lagi.
"You sick!" tuding saya pada infusannya.
Siapa yang 'sick' sebagai pria menurut kalian, friends?
Rabu, 19 Mei 2010
Dimarahin
Saya jenis manusia yang tahu adat, paham banget menilai dan memosisikan diri, tahu sekat antara ruang privat dan ruang publik. Tapi belakangan, sejak bekerja sebagai orang nomor 1 yang dicari Mr. President di pagi hari dan yang terakhir meninggalkan beliau ketika malam kian naik, saya mulai sering melanggar etika-etika tentang ruang privat/publik.
Pelanggaran itu biasanya saya lakukan pada Mrs. Re (silakan lihat postingan sebelumnya untuk tahu siapa perempuan ini). Habisan apa mau dikata ya? Presiden saya obsesi pada Mrs. Re. Mrs. Re lariiiiiii terus dari jangkauannya. Sementara saya ini ajudan Pak Presiden kami yang terhormat, satu-satunya orang yang tak boleh putus asa menghubungi klien atau orang manapun yang beliau perintahkan untuk saya hubungi. Kalau Sekretaris Direktur masih diperkenankan putus asa, pasang tampang mau mewek dengan mata berkaca-kaca dan bilang "Maaf, signor... saya sudah hubungi beliau 20 kali tapi masih belum ada respon", sementara untuk saya, tak ada excuse. Saya harus berhasil mendapat respon; negatif atau positif, tidak boleh tidak tahu, tidak boleh tidak bisa, tidak boleh lupa agenda.
Dan satu-satunya manusia yang bisa dengan seenak udelnya menolak panggilan dari Presiden kami adalah Mrs. Re. Satu-satunya makhluk hidup di galaksi ini yang bisa semaunya tidak merespon Presiden kami adalah perempuan itu.
Maaf-maaf kalau akhirnya saya jadi sering nakal menghadapinya. Seperti yang terjadi kemarin. Saya tahu Mrs. Re sudah 'perduli setan', 'perduli jin', 'perduli genderuwo', maksudnya... nggak perduli se ujung kuku pun dengan apa yang terjadi pada Mr. President.
Tapi saya kasihan melihat kondisi Mr. President. Seminggu belakangan beliau memaksakan diri bekerja dengan kondisi kesehatan buruk, dan tentu you guys ingat posting saya yang menemukan beliau menggeletak di sofa apartemennya dengan kondisi payah, dua hari ini makin payah saja. Kemarin dokter kantor sampai saya telepon untuk ke ruangannya karena suhu tubuhnya tinggi sekali.
Beliau bukan cuma kelelahan, bukan sekedar flu berat dan demam. Tapi di mata saya beliau butuh melihat pujaannya. Untuk bertahan hidup di dunia ini beliau memerlukan;O2, makanan, CO2, vitamin, dan Mrs. Re.
Begini kira-kira... Berapa lama manusia bisa hidup tanpa udara? atau tanpa makan? Kira-kira pertahanan tubuhnya runtuh karena beliau terlalu lama tidak melihat Mrs. Re. Jadi saya kirim pesan melalui FB wanita itu, mengabarkan bahwa Mr. President sakit.
3 pesan melalui FB
1 pesan ke email pribadinya
2 sms ke ponselnya
7 telepon yang berakhir ke kotak suara
Tidak digubris.
Jadi saya putar otak.
Dan akhirnya nekat menulis ke wall-nya, kira-kira:
'Mrs, apa kbr? Mr. Andalusi sakit, Mrs.... Sekedar info ya Mrs... tp kl mau nengok kami segera prepare akomodasi.'
Tak lama kemudian muncul respon:
'Andrezzz!! Tulis message, jgn wall!!'
Dia marah..... Saya sudah perkirakan itu, buru-buru saya telepon ke ponselnya dan Mrs. Re jawab! Nah... makhluk ini memang harus dinakali... Menit pertama saya diomeli bak anak SMP yang tak tahu aturan, diingatkan untuk tidak menulis hal-hal yang sifatnya pribadi di wall FB-nya, saya merespon 'maaf-maaf'. Sesudah itu saya bertanya apakah Mrs. Re mau datang. Dan tanpa pikir panjang dia menjawab; 'tidak. Terima kasih.'
Cepat-cepat saya menyelak, karena saya hapal, kalau dia sudah mengeluarkan kata 'terima kasih' biasanya sambungan langsung diputus.
'Kehadiran Mrs akan sangat berarti untuk kesehatan Mr. President. Beliau di infus.'
Mrs. Re kontan menjawab...
'Saya engineer, bukan dokter. Apa Presiden-mu mau di semen??'
Hahh??
Seusai itu saya mengirim pesan berisi permohonan maaf, sampai dua kali ke pesan di FBnya, tapi dia tidak merespon. Saya tulisi wallnya yang juga permohonan maaf, dan belum ada respon.
Dia pasti masih marah akibat aksi wall saya itu, di mata saya Mrs. Re terkesan menyembunyikan kehidupannya, baik senang-susahnya, apalagi yang berkenaan dengan Mr. President. Saya paham kalau dia marah besar. Tapi saya sekedar ajudan seorang CEO yang terkadang harus menempuh jalan apapun untuk sang Presiden, baik atas titahnya, atau inisiatif saya yang sekiranya diperlukan beliau.
Ps: Mrs. Re if you read this post, I do thank you very much for your kindness to forgive me.
Minggu, 16 Mei 2010
Klenger -Momen Stupid-
'Klenger'.....
Kata itu tertancap di kepala saya berbulan-bulan. Karena kunjungan terakhir ke Jakarta di sepanjang jalan, di dekat kampus-kampus saya melihat booth Klenger Burger. Tidak paham apa maksdunya, saya tanya pada Pak Presiden yang menghabiskan umur di Indonesia lebih banyak ketimbang saya. Sayangnya saya tanya bukan pada tempatnya, beliau sedang kelihatan berpikir penuh, dan kalimat yang meluncur dari mulut saya; 'apa itu klenger?' sambil buru-buru mencolek beliau dan menunjuk booth yang dilewati mobil kami.
Dan bodohnya (dia atau saya yang bodoh? atau keduanya?) beliau menjawab ringkas; 'burger. very large'. Saya heran, menggerutu pelan 'saya tahu...' tapi beliau manggut-manggut sambil terus 'meditasi'.
Saya baru tahu makna sebenarnya Sabtu sore, saya cari-cari Mr. President, untuk kabarkan satu 'gosip' penting perusahaan pesaing tapi ponselnya mati, pembantu rumahnya bilang beliau ada di apartemen, jadi menyusul lah saya ke sana. Mendapati beliau sedang menggeletak di sofa, di depan dinding yang di sana terpampang sebuah pigura lukisan kanvas besar, lukisan... hmmm... you know 'kan siapa?
Hidung Mr. President merah, tak tahu karena beliau nangis akibat rindu berat atau disebabkan flu-nya yang makin berat. Saya komentar; 'you look awful.' Beliau menjawab; 'aku klenger rek..' Membuat saya mengerutkan kening, kontan bertanya; 'mau burger?'
For Info: terkadang perbincangan kami terdengar so stupid, ini salah satu momen stupid itu.
Posting ini tak berguna ya? Apalagi bagi teman-teman yang Indonesia tulen dan banyak menghabiskan umur di Indonesia. Tapi saya heran, berarti klenger burger = tepar burger? Sepertinya saya harus cicipi burger itu. Apa sih yang membuat tepar setelah menyantapnya??
Saya baru tahu makna sebenarnya Sabtu sore, saya cari-cari Mr. President, untuk kabarkan satu 'gosip' penting perusahaan pesaing tapi ponselnya mati, pembantu rumahnya bilang beliau ada di apartemen, jadi menyusul lah saya ke sana. Mendapati beliau sedang menggeletak di sofa, di depan dinding yang di sana terpampang sebuah pigura lukisan kanvas besar, lukisan... hmmm... you know 'kan siapa?
Hidung Mr. President merah, tak tahu karena beliau nangis akibat rindu berat atau disebabkan flu-nya yang makin berat. Saya komentar; 'you look awful.' Beliau menjawab; 'aku klenger rek..' Membuat saya mengerutkan kening, kontan bertanya; 'mau burger?'
For Info: terkadang perbincangan kami terdengar so stupid, ini salah satu momen stupid itu.
Beliau balas mengerutkan kening, dan bilang; 'klenger, maksudnya... tepar. Itu Bahasa Jawa.'
Jadi, tahulah saya sekarang; klenger = tepar = situasi dimana kita merasa knocked out.Posting ini tak berguna ya? Apalagi bagi teman-teman yang Indonesia tulen dan banyak menghabiskan umur di Indonesia. Tapi saya heran, berarti klenger burger = tepar burger? Sepertinya saya harus cicipi burger itu. Apa sih yang membuat tepar setelah menyantapnya??
Senin, 10 Mei 2010
Ogah Pacaran di Demo????
Saya agak-agak shock ketika iseng lihat salah satu stasiun TV Indonesia dari televisi kabel berbayar (kangen rumah, agak mellow, kangen lihat orang-orang Indonesia). Tapi malah jadi heran... Gara-garanya, saya lihat infotainment tentang penyanyi legendaris mantannya si cantik KD, yaitu Mas Anang. Kabar-kabarnya dia akan di demo hampir 2000-an massa kalau dia dan Syahrini ogah pacaran. Hmmph... It's kind a weird to me.. Ck...ck.... (geleng-geleng kepala).
Saya pribadi secara kasat mata bisa melihat ada ketertarikan dari cara Mas Anang menatap Syahrini, dan ada keganjenan dari cara Syahrini menggelendoti Mas Anang. But... people, please... Apakah kalian di Indonesia nggak punya cukup pekerjaan yang berarti ketimbang mengurusi lantas mendemo ke dua korban kita itu? (geleng-geleng lagi sambil prihatin)
Jangan karena mata Mas Anang menatapi Syahrini dengan mesra, tangannya melulu merangkul pinggang (kadang di batas antara pinggang dan dada), dan sebaliknya Syahrini terus-terusan kayak kurang energi menggelendot pada Mas Anang, atau tangannya mencubiti pinggang atau pipi Anang dengan sayang. Jangan lantas buru-buru berpikir kalau mereka saling jatuh cinta, bisa jadi itu sekedar proyek membangun image. Seperti artis-artis lain punya image masing-masing; KD elegan, Pinkan Mambo centil, Jupe binal (ups... maksud saya seksi). Geleng-geleng sambil telan air liur.... pengeen....
Di samping itu, kalaupun mereka benar-benar saling jatuh cinta, toh tak ada orang yang sanggup memunafiki perasaannya, lama-lama tanpa kita demo mereka pasti pacaran. Tapi bagaimana kalau seperti yang saya katakan di atas; bahwa itu sekedar image building? Kasihan kan??
Bagaimana kalau Syahrini nggak mau sama Anang (tapi maunya sama saya)?? Sebab dia tidak siap dapat paket combo super (beli 1 gratis 2). Coba, guys... dipikir lagi kalau tiba-tiba diri kalian sendiri disodorkan, dijorokin ke lelaki/perempuan yang sebenarnya sekedar kalian hormati tapi tidak kalian hasrati?? Apalagi kalau sampai ada 2000 orang siap mendemo kalian, friends.... Aduh!!! ENEEEEEEEKKKKKKK.....
Ketimbang panas-panasan demo di depan rumah orang, bikin keki orang yang bersangkutan dan juga Pak Polisi, mending cari aktivitas lain yang berguna, atau mendemo hal lain yang lebih krusial dan pantas didemo. Berhentilah kita mengobok-obok ruang privat orang lain, memaksakan kehendak pada orang lain demi kepuasan pribadi dan hal-hal mengganggu semacam itu. Bukan sekedar tak berguna, tapi juga dosa. Ehm... Andrez speaking about 'Dosa'????? Hari apa ini??
Saya pribadi secara kasat mata bisa melihat ada ketertarikan dari cara Mas Anang menatap Syahrini, dan ada keganjenan dari cara Syahrini menggelendoti Mas Anang. But... people, please... Apakah kalian di Indonesia nggak punya cukup pekerjaan yang berarti ketimbang mengurusi lantas mendemo ke dua korban kita itu? (geleng-geleng lagi sambil prihatin)
Jangan karena mata Mas Anang menatapi Syahrini dengan mesra, tangannya melulu merangkul pinggang (kadang di batas antara pinggang dan dada), dan sebaliknya Syahrini terus-terusan kayak kurang energi menggelendot pada Mas Anang, atau tangannya mencubiti pinggang atau pipi Anang dengan sayang. Jangan lantas buru-buru berpikir kalau mereka saling jatuh cinta, bisa jadi itu sekedar proyek membangun image. Seperti artis-artis lain punya image masing-masing; KD elegan, Pinkan Mambo centil, Jupe binal (ups... maksud saya seksi). Geleng-geleng sambil telan air liur.... pengeen....
Di samping itu, kalaupun mereka benar-benar saling jatuh cinta, toh tak ada orang yang sanggup memunafiki perasaannya, lama-lama tanpa kita demo mereka pasti pacaran. Tapi bagaimana kalau seperti yang saya katakan di atas; bahwa itu sekedar image building? Kasihan kan??
Bagaimana kalau Syahrini nggak mau sama Anang (tapi maunya sama saya)?? Sebab dia tidak siap dapat paket combo super (beli 1 gratis 2). Coba, guys... dipikir lagi kalau tiba-tiba diri kalian sendiri disodorkan, dijorokin ke lelaki/perempuan yang sebenarnya sekedar kalian hormati tapi tidak kalian hasrati?? Apalagi kalau sampai ada 2000 orang siap mendemo kalian, friends.... Aduh!!! ENEEEEEEEKKKKKKK.....
Ketimbang panas-panasan demo di depan rumah orang, bikin keki orang yang bersangkutan dan juga Pak Polisi, mending cari aktivitas lain yang berguna, atau mendemo hal lain yang lebih krusial dan pantas didemo. Berhentilah kita mengobok-obok ruang privat orang lain, memaksakan kehendak pada orang lain demi kepuasan pribadi dan hal-hal mengganggu semacam itu. Bukan sekedar tak berguna, tapi juga dosa. Ehm... Andrez speaking about 'Dosa'????? Hari apa ini??
Jumat, 30 April 2010
Yang dipilih Wanita
Saking sibuknya saya belakangan ini saya bisa-bisanya 'hilang ingatan parsial' bahwa saya ini punya blog yang baru diberi entri dikit. Ngga heran juga gue ngga punya follower di blog ini. Kalian yang sempat tengok-tengok blog ini pasti heran ngapain saja saya belakangan.
Begini.... Seperti yang saya bilang kalau saya ini ajudan seorang Presiden direktur perusahaan internasional yang cabangnya ada di nyaris seluruh jagat raya, so..... you can imagine betapa repotnya saya. Apalagi si Pak Direktur yang bersangkutan. Repot sekali beliau itu, untungnya selain perusahaan dan anak-anak cabangnya tidak ada lagi yang harus beliau urus, tak ada istri, pacar, simpanan. Kalau saya... masih seperti tahun lalu; punya dua pacar.
Kabar terakhir? Mau tahu? Saya seperti biasa, sukses dalam menjalani pekerjaan sebagai ajudan yang baik, profesional dan cukup tangguh mengimbangi kinerja Pak Presiden kami. Saya juga tetap sukses menjalani dua hubungan dengan dua cewe yang tinggal di dua kota berbeda. Saya puji Tuhan tidak mengalami cobaan atau problem berat dalam hidup tahun-tahun belakangan ini. Intinya: kehidupan karir dan percintaan, siang dan malam saya masih seimbang.
Kontras dengan kondisi Pak Presiden. Hidupnya, sorry to say, makin ruwet. Memang sudah ruwet ya hidup dia itu mulai dari awal saya ketemu beliau dan tulis blog ini. Blog ini melulu berisi tentang keruwetan hidup beliau. Yang lalu-lalu saya tulis di entri masih belum seberapa dibanding 'keruwetan' hidup beliau belakangan.
Makin ruwet sebab cewe' inceran, yang diburu, dicintai, digilai setengah mati, dikejar jatuh-bangun yang dia dengan iritnya sebut 'Re' itu, huahahahaha..... KAWIN! Tentu dengan pria lain, yang juga sudah saya sebut-sebut di entri-an sebelumnya. Tentu Pak Presiden kami yang tercinta nyaris modar gara-gara fakta ini. Upset and down mampir sebentar saja di nurani beliau, sesaat kemudian diuber juga itu perempuan bini orang. Gilanya Pak Presiden kami yang gagah berani tetep keukeuh (anyway do you really know the meaning of 'keukeuh'?) ngejar si target pas nyonya cantik itu hamil. Sikap beliau kalau dituang lewat kalimat mungkin begini: Perduli setan dia hamil, makin seksi ini.....
Dia oper persneling, tancap gas, hajar! Nah yang dihajar itu tentu ngamuk, gerah diuber-uber terus. Paham bagaimana emosi cewe hamil? Coba sekali-kali gangguin cewe hamil, kalau ngga digaplok, ditempeleng, dihajar... HEBAT. Begitulah yang terjadi: Pak Presiden kami yang terhormat tentu dimaki sambil digaploki oleh perempuan muda yang hamil dan bahenol itu. Sementara yang menggaploki naik pitam, yang digaploki justru naik birahi. Bagaimana tidak??? Itu nyonya muda pas hamil justru makin 'marun' mulai dari wajahnya malah makin bening, bersinaran, body-nya malah menggiurkan. Bagaimana bisa Presiden kami tak kelimpungan, terbayang-bayang siang malam. Tapi saban ketemu malah dimaki. Beberapa kesempatan bertemu face to face dan terus mendapat reaksi negatif, Pak Presiden sampai pernah nyolong cium suatu hari. Kontan saya dan supir dibuat shock dan terkaget-kaget. Apalagi yang bibirnya diserobot begitu saja, kontan ngamuk, tempelengan keras mampir di pipi Pak Presiden. Saya nyeri di hati melihat adegan itu, tapi Pak Presiden nampak rela pipinya ditempeleng setelah aksi sabotasenya itu.
Saya nggak tahu pasti apa yang memadamkan bara semangat Pak Presiden, tahu-tahu beberapa saat kemudian beliau memutuskan berhenti mengejar si nyonya muda yang tengah hamil tua itu. Yang saya tahu beliau surut langkah setelah suatu malam ber sms ria dengan nyonya cantik itu, mukanya tenang awalnya, tapi akhirnya lesu. Setelah itu beliau menenggelamkan diri ke pekerjaan. Total berhenti beraksi sebagai pejuang cinta yang kalap. Kalau ada urusan di cabang Jakarta, dulu biasanya beliau mampir ke rumah Miss -ralat sekarang sudah jadi Mrs- Re, jadi tidak pernah mampir atau nyebut namanya lagi. Kalau benar-benar ingin mampir atau harus mampir untuk menyampaikan oleh-oleh untuk mamanya Mrs. Re, beliau berani mampir di saat Mrs. Re tidak di rumah. Beliau mampir sebentar, melihat dan memegang-megang bayi kecil Mrs. Re habis itu buru-buru cabut. Sepertinya beliau mencoba melupakan dan menghilangkan perasaannya terhadap perempuan itu dengan cara menghindari pertemuan. Sebab Mrs. Re adalah jenis perempuan yang kalau kita temui maka kita akan makin terjerat pada dia.
Anehnya Mrs. Re yang biasanya kalau sudah beberapa waktu tidak bertemu atau kontak dengan Pak Presiden pasti mencari, juga tidak pernah mencoba menghubungi. Mungkin 'kenakalan' Presiden kami semasa kehamilannya itu benar-benar kelewatan sampai Mrs. Re nggak mau tahu lagi dengan beliau.
Tapi Tuhan punya kehendak lain, suatu siang, Pak Adam Presiden kami baru beberapa menit tiba dan menimang bayi lelaki Mrs. Re. Saya ternganga-nganga melihat Mrs. Re pulang. Padahal itu belum waktunya perempuan itu pulang. Saya gelagapan, tapi apa mau dikata?Bisa apa saya? Melarang Mrs. Re masuk ke rumahnya sendiri? Wah bisa-bisa dia panggil satpam, satpol PP, polisi, tentara kalau perlu.
Jadilah Mrs. Re masuk dan mendapati Pak Presiden di ruang tamu menimang anaknya. Mrs Re terdiam, Pak Adam bingung. Suasana sempat kaku, akhirnya Pak Adam menanyakan kabarnya dan Mrs. Re menjawab dengan kalem. Sukurnya nggak ada peristiwa tempeleng menempeleng di sana, Mrs. Re duduk di sofa melihat Pak Adam menggendong bayinya. Tapi Pak Adam justru bergegas mengembalikan si bayi ke ibunya dan pamit dengan gaya kakunya yang khas.
Di mobil dia diam saja bermenit-menit, terlihat berpikir dan merenung. Tiba-tiba dia bertanya "Andrez, bagaimana menurutmu dia?"
"Bayinya sehat."
"Ibunya, Andrez... Ibunya."
"Cantik." Pak Adam malah menggeleng.
"Dia tidak seperti dia." Sewaktu saya tanya apa maksud kalimat 'dia tidak seperti dia?' Pak Adam malah menghela napas panjang, meski akhirnya menjawab.
"Pakaiannya, kulitnya, pakaian bayinya. Itu sangat bukan Re yang saya kenal." Saya diam, setuju dalam hati, Mrs. Re kelihatan tidak 'se-sejahtera' sewaktu menjadi milik Pak Presiden kami.
Dulu saya mengira bahwa yang digilai Mrs. Re adalah seorang pengusaha muda Indonesia yang perusahaan raksasanya sangat terkenal dan berjaya, sampai-sampai perempuan itu menolak Presiden Direktur kami yang kaya raya, cerdas dan gagah. Sampai akhirnya hari itu, sewaktu saya melihat lagi Mrs. Re setelah sekian lama tidak bertemu, kenyataan bahwa mereka masih tinggal di rumah itu, dan (benar kata Pak Presiden) dari pakaian yang dia kenakan, pakaian bayinya, dan muka Mrs. Re yang kusam, saya yakin Mrs. Re menikahi laki-laki standar. Bukan executive muda apalagi pengusaha yang berjaya.
Lalu yang jadi pertanyaan; kenapa perempuan itu bisa-bisanya menolak pria sukses yang gagah, brilian dan mapan hanya demi laki-laki biasa yang kemudian membuat kulitnya kusam dan menyuruhnya memakai pakaian yang 'bukan untuk seorang Mrs. Re'?
Kenapa? Apa penyebabnya?
Apa kalian ada yang bisa mengira-ngira? Please tell me, I want to be chosen by a woman like her.
Begini.... Seperti yang saya bilang kalau saya ini ajudan seorang Presiden direktur perusahaan internasional yang cabangnya ada di nyaris seluruh jagat raya, so..... you can imagine betapa repotnya saya. Apalagi si Pak Direktur yang bersangkutan. Repot sekali beliau itu, untungnya selain perusahaan dan anak-anak cabangnya tidak ada lagi yang harus beliau urus, tak ada istri, pacar, simpanan. Kalau saya... masih seperti tahun lalu; punya dua pacar.
Kabar terakhir? Mau tahu? Saya seperti biasa, sukses dalam menjalani pekerjaan sebagai ajudan yang baik, profesional dan cukup tangguh mengimbangi kinerja Pak Presiden kami. Saya juga tetap sukses menjalani dua hubungan dengan dua cewe yang tinggal di dua kota berbeda. Saya puji Tuhan tidak mengalami cobaan atau problem berat dalam hidup tahun-tahun belakangan ini. Intinya: kehidupan karir dan percintaan, siang dan malam saya masih seimbang.
Kontras dengan kondisi Pak Presiden. Hidupnya, sorry to say, makin ruwet. Memang sudah ruwet ya hidup dia itu mulai dari awal saya ketemu beliau dan tulis blog ini. Blog ini melulu berisi tentang keruwetan hidup beliau. Yang lalu-lalu saya tulis di entri masih belum seberapa dibanding 'keruwetan' hidup beliau belakangan.
Makin ruwet sebab cewe' inceran, yang diburu, dicintai, digilai setengah mati, dikejar jatuh-bangun yang dia dengan iritnya sebut 'Re' itu, huahahahaha..... KAWIN! Tentu dengan pria lain, yang juga sudah saya sebut-sebut di entri-an sebelumnya. Tentu Pak Presiden kami yang tercinta nyaris modar gara-gara fakta ini. Upset and down mampir sebentar saja di nurani beliau, sesaat kemudian diuber juga itu perempuan bini orang. Gilanya Pak Presiden kami yang gagah berani tetep keukeuh (anyway do you really know the meaning of 'keukeuh'?) ngejar si target pas nyonya cantik itu hamil. Sikap beliau kalau dituang lewat kalimat mungkin begini: Perduli setan dia hamil, makin seksi ini.....
Dia oper persneling, tancap gas, hajar! Nah yang dihajar itu tentu ngamuk, gerah diuber-uber terus. Paham bagaimana emosi cewe hamil? Coba sekali-kali gangguin cewe hamil, kalau ngga digaplok, ditempeleng, dihajar... HEBAT. Begitulah yang terjadi: Pak Presiden kami yang terhormat tentu dimaki sambil digaploki oleh perempuan muda yang hamil dan bahenol itu. Sementara yang menggaploki naik pitam, yang digaploki justru naik birahi. Bagaimana tidak??? Itu nyonya muda pas hamil justru makin 'marun' mulai dari wajahnya malah makin bening, bersinaran, body-nya malah menggiurkan. Bagaimana bisa Presiden kami tak kelimpungan, terbayang-bayang siang malam. Tapi saban ketemu malah dimaki. Beberapa kesempatan bertemu face to face dan terus mendapat reaksi negatif, Pak Presiden sampai pernah nyolong cium suatu hari. Kontan saya dan supir dibuat shock dan terkaget-kaget. Apalagi yang bibirnya diserobot begitu saja, kontan ngamuk, tempelengan keras mampir di pipi Pak Presiden. Saya nyeri di hati melihat adegan itu, tapi Pak Presiden nampak rela pipinya ditempeleng setelah aksi sabotasenya itu.
Saya nggak tahu pasti apa yang memadamkan bara semangat Pak Presiden, tahu-tahu beberapa saat kemudian beliau memutuskan berhenti mengejar si nyonya muda yang tengah hamil tua itu. Yang saya tahu beliau surut langkah setelah suatu malam ber sms ria dengan nyonya cantik itu, mukanya tenang awalnya, tapi akhirnya lesu. Setelah itu beliau menenggelamkan diri ke pekerjaan. Total berhenti beraksi sebagai pejuang cinta yang kalap. Kalau ada urusan di cabang Jakarta, dulu biasanya beliau mampir ke rumah Miss -ralat sekarang sudah jadi Mrs- Re, jadi tidak pernah mampir atau nyebut namanya lagi. Kalau benar-benar ingin mampir atau harus mampir untuk menyampaikan oleh-oleh untuk mamanya Mrs. Re, beliau berani mampir di saat Mrs. Re tidak di rumah. Beliau mampir sebentar, melihat dan memegang-megang bayi kecil Mrs. Re habis itu buru-buru cabut. Sepertinya beliau mencoba melupakan dan menghilangkan perasaannya terhadap perempuan itu dengan cara menghindari pertemuan. Sebab Mrs. Re adalah jenis perempuan yang kalau kita temui maka kita akan makin terjerat pada dia.
Anehnya Mrs. Re yang biasanya kalau sudah beberapa waktu tidak bertemu atau kontak dengan Pak Presiden pasti mencari, juga tidak pernah mencoba menghubungi. Mungkin 'kenakalan' Presiden kami semasa kehamilannya itu benar-benar kelewatan sampai Mrs. Re nggak mau tahu lagi dengan beliau.
Tapi Tuhan punya kehendak lain, suatu siang, Pak Adam Presiden kami baru beberapa menit tiba dan menimang bayi lelaki Mrs. Re. Saya ternganga-nganga melihat Mrs. Re pulang. Padahal itu belum waktunya perempuan itu pulang. Saya gelagapan, tapi apa mau dikata?Bisa apa saya? Melarang Mrs. Re masuk ke rumahnya sendiri? Wah bisa-bisa dia panggil satpam, satpol PP, polisi, tentara kalau perlu.
Jadilah Mrs. Re masuk dan mendapati Pak Presiden di ruang tamu menimang anaknya. Mrs Re terdiam, Pak Adam bingung. Suasana sempat kaku, akhirnya Pak Adam menanyakan kabarnya dan Mrs. Re menjawab dengan kalem. Sukurnya nggak ada peristiwa tempeleng menempeleng di sana, Mrs. Re duduk di sofa melihat Pak Adam menggendong bayinya. Tapi Pak Adam justru bergegas mengembalikan si bayi ke ibunya dan pamit dengan gaya kakunya yang khas.
Di mobil dia diam saja bermenit-menit, terlihat berpikir dan merenung. Tiba-tiba dia bertanya "Andrez, bagaimana menurutmu dia?"
"Bayinya sehat."
"Ibunya, Andrez... Ibunya."
"Cantik." Pak Adam malah menggeleng.
"Dia tidak seperti dia." Sewaktu saya tanya apa maksud kalimat 'dia tidak seperti dia?' Pak Adam malah menghela napas panjang, meski akhirnya menjawab.
"Pakaiannya, kulitnya, pakaian bayinya. Itu sangat bukan Re yang saya kenal." Saya diam, setuju dalam hati, Mrs. Re kelihatan tidak 'se-sejahtera' sewaktu menjadi milik Pak Presiden kami.
Dulu saya mengira bahwa yang digilai Mrs. Re adalah seorang pengusaha muda Indonesia yang perusahaan raksasanya sangat terkenal dan berjaya, sampai-sampai perempuan itu menolak Presiden Direktur kami yang kaya raya, cerdas dan gagah. Sampai akhirnya hari itu, sewaktu saya melihat lagi Mrs. Re setelah sekian lama tidak bertemu, kenyataan bahwa mereka masih tinggal di rumah itu, dan (benar kata Pak Presiden) dari pakaian yang dia kenakan, pakaian bayinya, dan muka Mrs. Re yang kusam, saya yakin Mrs. Re menikahi laki-laki standar. Bukan executive muda apalagi pengusaha yang berjaya.
Lalu yang jadi pertanyaan; kenapa perempuan itu bisa-bisanya menolak pria sukses yang gagah, brilian dan mapan hanya demi laki-laki biasa yang kemudian membuat kulitnya kusam dan menyuruhnya memakai pakaian yang 'bukan untuk seorang Mrs. Re'?
Kenapa? Apa penyebabnya?
Apa kalian ada yang bisa mengira-ngira? Please tell me, I want to be chosen by a woman like her.
Sabtu, 12 September 2009
8 Lies of a mother
Ini saya kutip dari email yang dikirim teman saya hari ini.
This story begins when I was a child: I was born poor. Often we hadn't enough to eat. Whenever we had some food, Mother often gave me her portion of rice. While she was transferring her rice into my bowl, she would say "Eat this rice, son! I'm not hungry."
As I grew, Mother gave up her spare time to fish in a river near our house; she hoped that from the fish she caught, she could give me a little bit more nutritious food for my growth. Once she had caught just two fish, she would make fish soup. While I was eating the soup, mother would sit beside me and eat what was still left on the bone of the fish I had eaten; My heart was touched when I saw it. Once I gave the other fish to her on my chopstick but she immediately refused it and said, "Eat this fish, son! I don't really like fish."
This was Mother's Second Lie.
This was Mother's Second Lie.
Then, in order to fund my education, Mother went to a Match Factory to bring home some used matchboxes which she filled with fresh matchsticks. . This helped her get some money to cover our needs. One wintry night I awoke to find Mother filling the matchboxes by candlelight. So I said, "Mother, go to sleep; it's late: you can continue working tomorrow morning." Mother smiled and said "Go to sleep, son! I'm not tired."
This was Mother's Third Lie
This was Mother's Third Lie
When I had to sit my Final Examination, Mother accompanied me.. After dawn, Mother waited for me for hours in the heat of the sun. When the bell rang, I ran to meet her.. Mother embraced me and poured me a glass of tea that she had prepared in a thermos. The tea was not as strong as my Mother's love, Seeing Mother covered with perspiration; I at once gave her my glass and asked her to drink too. Mother said "Drink, son! I'm not thirsty!".
This was Mother's Fourth Lie.
This was Mother's Fourth Lie.
After Father's death, Mother had to play the role of a single parent. She held on to her former job; she had to fund our needs alone. Our family's life was more complicated. We suffered from starvation. Seeing our family's condition worsening, my kind Uncle who lived near my house came to help us solve our problems big and small.
Our other neighbours saw that we were poverty stricken so they often advised my mother to marry again. But Mother refused to remarry saying "I don't need love."
This was Mother's Fifth Lie.
Our other neighbours saw that we were poverty stricken so they often advised my mother to marry again. But Mother refused to remarry saying "I don't need love."
This was Mother's Fifth Lie.
After I had finished my studies and gotten a job, it was time for my old Mother to retire but she carried on going to the market every morning just to sell a few vegetables. I kept sending her money but she was steadfast and even sent the money back to me. She said, "I have enough money."
That was Mother's Sixth Lie.
That was Mother's Sixth Lie.
I continued my part-time studies for my Master's Degree. Funded by the American Corporation for which I worked, I succeeded in my studies. With a big jump in my salary, I decided to bring Mother to enjoy life in America but Mother didn't want to bother her son; she said to me "I'm not used to high living."
That was Mother's Seventh Lie
That was Mother's Seventh Lie
Kamis, 10 September 2009
Tentang Pria yang Totally Tidak Romantis
Aku tahu sepanjang hari kemarin Pak Adam resah sekali, tapi seperti selayaknya pria dewasa yang menjabat top management, Pak Adam menutupi semua perasaannya dan tak ada ekspresi yang muncul di wajahnya. Tapi aku, bertahun-tahun menjadi ajudannya, bisa merasakan energi resah hati beliau.
Sewaktu makan siang, Pak Adam beberapa kali memeriksa ponselnya, pasti yang ia cari bukan pesan atau panggilan masuk dari rekan perusahaan, komisaris, atau bawahannya. Pasti ia mencari-cari jejak Miss. Re di ponselnya. Dan aku yakin wanita itu sama sekali nggak meninggalkan satu 'jejak' pun agar Pak Adam menghubunginya. Efeknya, Pak Adam makan sedikit sekali, membuat aku malu untuk menghabiskan makan siangku. Jadilah, aku juga menemaninya 'tidak menghabiskan makan siang'.
Pak Adam bukan tipe presiden yang mau makan sendiri di meja. Ia mempersilakan aku 'ajudan'nya untuk makan satu meja dengannya. Bukan sekedar menghargai dan menghormatiku, tapi karena ia juga ingin mendengar laporan-laporanku mengenai satu hal atau agenda-agenda. Atau bahkan gosip-gosip perusahaan saingan. Sebagai tangan kanan presiden, aku up to date mengenai itu semua.
Sering juga kami makan siang bertiga dengan Lorene, sekretaris Pak Adam. Aku dan Lorene memang bersama Pak Adam sejak ia pertama kali menginjakan kaki di kota ini. Pria indonesia satu ini bukan cuma mencintai hanya satu wanita, tapi tak pernah mengganti sekretaris atau ajudannya. Kalau kinerja bagus dan ia menyukainya, Pak Adam tak akan mendepak orang-orang dekatnya.
2 hari ini, Lorene sudah memesan dua buket mawar beludru dari florist Indonesia untuk dikirim ke Miss. Re. Sudah mengirim 2 paket cokelat Paris yang paling enak. Juga sudah mengirim beberapa e-card permohonan maaf ke emailnya. Hehehehe..... Pak Adam masih belum kapok-kapok juga menyuruh sekretarisnya mengirimi pesan-pesan macam itu, yang harusnya dia lakukan sendiri.
Beberapa tahun lalu, ketika Miss Re marah besar dan sama sekali tidak dapat dihubungi, sementara Pak Adam luar biasa sibuk dan tak punya waktu untuk merayunya, saat itu kami kebetulan terbang ke Jakarta untuk serangkaian rapat akbar dan penandatanganan MoU baru dengan rekanan. Pak Adam menyuruh sekretaris Jakartanya yang... sebut saja namanya Vanessa karena ia mirip si Vanessa Hudgens penyanyi itu.
Vanessa memasang tampang putus asa karena Pak Adam terus memintanya menghubungi Miss. Re. Kali ini permasalahan antara mereka sangat genting. Aku mengira kali itu Pak Adam akan benar-benar kehilangan malaikat pujaannya. Aku pikir habislah kali ini riwayat percintaan mereka yang memang tak mulus. Saking takutnya kehilangan Miss. Re, Pak Adam sampai berkata pada Vanessa yang sudah bertahun-tahun menjadi sekretarisnya, mulai dari beliau masih menjadi General Manager; "Hubungi sampai tersambung, atau saya pecat!"
Aku terperangah, Vanessa pucat. Kami paham betul watak beliau, Pak Adam nyaris tidak pernah membesarkan volume suaranya, tidak pernah mengintimidasi karyawan. Beliau pasti benar-benar merasa terancam kali ini. Habis berkata itu beliau kembali ke ruangannya, mempersiapkan diri untuk bertemu klien besar yang sudah bersama kami bertahun-tahun lamanya. Aku dan Vanessa saling menatap sejenak, gadis itu mengeluarkan ponsel miliknya. "Mati gue nih...." desisnya sambil menekan-nekan keypad.
"SMS ibu?" tanyaku padanya. Vanessa menggigit bibir bawahnya sambil mengangguk. "Hmmm.... bu... tolong angkat telepon sebentar saja, atau saya dipecat bapak. Bagaimana?" tanya Vanessa minta pendapatku. Mau apa lagi? aku mengangguk.Menit setelah SMS terkirim, Vanessa mengangkat gagang telepon di meja, menelepon lagi, dan.... Miss. Re menjawab panggilannya. Miss Re yang sebenarnya berhati sangat lembut itu cukup akrab dengan Vanessa bahkan pernah meminta Vanessa memanggil namanya tanpa embel-embel apapun.
"Bu, maafkan saya... bapak sangat perlu bicara dengan ibu. Sangat-sangat penting, bu. Tolonglah bu... atau saya dipecat." Cerocos Vanessa begitu mendengar suara Miss. Re. Aku senang sekali melihatnya berhasil. Kemudian dengan sumringah Vanessa berkata; "terima kasih banyak ya bu!!" lalu menyambungkan telepon ke ruangan Pak Adam. Tapi tak sampai semenit lampu pertanda Pak Adam sedang on line sudah mati. Lha? Aku membayangkan Miss. Re cuma berkata; 'aku sibuk, kita bicarakan saja lagi nanti dan jangan pecat Vanessa'. Kalimat itu hanya butuh beberapa detik untuk keluar dari mulut Miss Re.
Usai lampu tanda Pak Adam on line di pesawat telepon di atas meja Vanessa mati, Pak Adam keluar dari ruangan, mendekati meja Vanessa. Saat itu rombongan klien muncul, Pak Adam menyambut mereka dan mempersilakan masuk. sebelum ia masuk Pak Adam menghampiri meja Vanessa memberikan satu ponselnya yang berisi kartu provider Indonesia pada Vanessa, juga sebuah majalah yang ia temukan di meja kerja Vanessa dan selintas ia bolak-balik sambil menunggu meeting yang hampir di mulai tadi. "Kirim ini pada ibu," kata Pak Adam menunjuk satu halaman yang berisi aneka kartu, sms-sms dan gambar-gambar yang lucu untuk dikirim ke kerabat atau pasangan.
"Yang mana, pak?"
"Kamu lebih tahu." jawab Pak Adam menatap langsung mata sekretarisnya, Vanessa tersenyum sambil mengangguk-angguk. Jadilah selama Pak Adam meeting dengan klien Vanesaa berlagak menjadi Pak Adam, mengirimkan sms dan gambar-gambar lucu yang dipesannya dari penyedia konten itu yang beriklan di majalahnya. Miss Re pasti luluh hatinya. Sehingga pada saat aku harus menjemputnya untuk terbang ke kampung halaman Pak Adam untuk menengok ibunya Pak Adam yang sakit pastilah wajah Miss Re sudah sumringah.
Menjelang sore aku menjemputnya, tapi hati Miss Re rupanya belum luluh. saat serangkaian meeting sudah selesai dan Pak Adam muncul dari ruang meeting, Miss Re dengan jelas menolak kecupannya. kami lalu meninggalkan gedung kantor dan beranjak ke bandara Soekarno-Hatta dengan suasana senyap.
Di dalam pesawat Pak Adam dengan sabar mencoba membujuk malaikatnya, membisikkan sesuatu atau mencoba menggenggam tangannya, tapi dengan sadis Miss Re menolak. Aku melihat bossku sungguh nelangsa. Padahal sebagai lelaki aku bisa membayangkan betapa rindu dendam Pak Adam sudah sampai diubun-ubun setelah berbulan-bulan tidak menjumpai kekasihnya. Tentu ia sangat ingin memeluk, mencium dan menjamah tubuh moleknya.
Tak sampai dua jam kami sudah tiba di kampung halaman Pak Adam dan langsung menuju rumah sakit, Pak Adam terkejut bukan kepalang mendapati ibunya sedemikian parah. sebelumnya keluarga hanya mengabari bahwa ibunya sakit tanpa menceritakan bahwa kondisinya buruk. Suasana menjadi begitu berduka. Itu pertama kali aku melihat Miss. Re menangis. Aku melihatnya bak bidadari surga yang sedang berduka, sementara bossku menggenggam tangan ibunya dan membisiki sesuatu di telinga wanita tua itu.
"Bu..." terdengar suara Pak Adam memanggil ibunya pelan diantara isak tangis Miss Re. "Bu, ini Adam dan Re datang untuk ibu." Ucap si putera bungsu itu membujuk ibunya. "Bangun, bu. Ini Adam dan Re." Aku berdiri kaku di dekat pintu menyaksikan adegan ini. Menelan ludahku, teringat ibuku sendiri yang sudah lama tak kutengok.
"Saya akan lakukan apapun, yang ibu mau. Yang ibu minta, bu...." Mendengar itu aku mengerutkan kening, mengira bossku sudah tak waras. Mengabulkan apapun? Bah! Kalau ibunya menyuruhnya menikah? Dan sebagai ibu yang telah sukses membesarkan anak-anak berprestasi, ibunya hanya ingin melihat Pak Adam menikah. Tak ada lagi keinginan lain.
"Bu, bangunlah. Saya dan Re akan...." Pintu di sampingku membuka tanpa ketukan, aku terdorong pintu. Terkejut dan nyaris jatuh. Seorang kakek tua berjenggot putih lebat dan berperut buncit muncul dari balik pintu. Aku membukakan lebih lebar dan beliaupun masuk sambil memamerkan senyum tanda terima kasih padaku.
"..... kami akan.... akan menikah." mendengar kalimat Pak Adam itu aku dan si kakek tua sama-sama menoleh ke arah tempat tidur.
"Alhamdulillaaaah!!" ungkapan seorang muslim yang merasa bersyukur, tercetus keras dari mulut si kakek, mengejutkan kami semua bahkan termasuk aku yang berdiri di sebelahnya. Aku melihat Pak Adam terpana, apalagi Miss Re yang sepertinya sangat tak terima dengan kalimat Pak Adam tadi. Si kakek tua menghampiri ke dua cucunya."Jadi kalian akan segera menikah? Bunda Sofie pasti langsung sembuh." Kakek tua memeluk ke dua cucunya sekaligus. lalu sang cucu bergantian bersalaman padanya dengan hormat. Usai itu Miss Re meninggalkan mereka.
"Kakek naik apa ke sini?" tanya Pak Adam sambil memperhatikan Miss Re yang melangkah ke pintu, aku bergegas membukakan pintu untuknya.
"Kakek dari kemarin ada di sini." kata si kakek yang berbahagia sambil menepuk-nepuk bahu Pak Adam dengan bangga.
"Kek, saya mau keluar sebentar saja." Pamit Pak Adam lalu bergegas menuju pintu, dan aku membukakan pintu itu lagi. Pak Adam pasti mengejar Miss. Re.
"Kamu penjaganya Adam 'kan? Kenapa tidak ikuti dia?" kata si kakek masih menyeringai ramah. Aku membuka mulutku ingin menerangkan bahwa aku ajudan yang bertindak sebagai asisten pribadi, sama sekali bukan pengawal pribadi untuk melindungi Pak Adam dari penjahat. Lagian Pak Adam lebih bisa melindungi diri sendiri ketimbang aku.
"Ayo, lakukan tugasmu dengan baik, penjahat belakangan ini tidak perduli rumah sakit atau mall sekalipun. Ada kesempatan mereka menyerang." kata si kakek sambil mendorongku keluar. "Beritahu juga bahwa kakek mau istirahat dulu di rumah, akek sudah capek dari pagi di sini. Besok pagi kakek gantian lagi jaga di sini." Celoteh kakek saat mendorongku keluar.
Di luar ruangan aku melihat Pak Adam melangkah lebar-lebar mencari Miss Re. Aku tak mau mendekat. Jadi aku melenggang pelan sambil memperhatikannya dari jauh, mungkin ia akan perlu bantuanku.
Pak Adam menoleh ke sekeliling mencari sosok Miss Re. Kami tiba di food court, kulihat Pak Adam mendekati seorang wanita berkemeja putih. Itu pasti Miss Re. Aku berdiri, menyandar di railing memperhatikan bossku menghampiri wanita yang duduk membelakangi kami. Pak Adam langsung merengkuh bahunya sambil memberi kecupan. Gila! Dari tempatku berdiri, bersamaan dengan itu dari pintu masuk yang lain Miss Re muncul dan terbelalak melihat Pak Adam mendaratkan ciuman di pipi wanita itu.
Wanita yang dicium memekik terkejut, Miss Re meradang "Adam!" Aku menegakkan berdiriku, terkejut bukan kepalang. "Maaf, miss. Saya pikir anda tunangan sa... ya..." kata Pak Adam seraya menunjuk Miss Re yang sudah melalui mereka. Aku melihat wanita itu merona saat melihat pria yang menciumnya ternyata begitu menawan. "Maafkan dan permisi," kata Pak Adam langsung melesat ke arah wanitanya yang makin murka. Aku membiarkan Pak Adam melesat melewatiku, setelah beberapa detik dan aku yakin aku telah membuat jarak aku melenggang pelan ke arah mereka.
Dari kejauhan aku melihat Pak Adam sudah berhasil menjajari Miss. Re, ia meyakinkan wanita itu bahwa dirinya mengira wanita tadi adalah Miss Re. Miss Re dengan sadis melengos saja membuang muka. Aku berhenti di tempat karena mereka berdua berhenti di lorong sepi, Miss Re terlihat memuntahkan kata-kata dengan emosi meluap. Intinya ia tidak terima karena Pak Adam mengucapkan "kami akan menikah", apalagi kemudian kakeknya mendengar kalimat itu. Miss Re menuntut dengan kesal 'bagaimana ini?'
Pak Adam dengan serius menjawab, 'ya lakukan saja.' Itu membuat Miss Re melempar Pak Adam dengan tas tangannya lalu melangkah kesal. Pak Adam, dengan tas tangan wanita di kedua tangannya menggeleng-geleng menatap bidadari ngamuk itu menjauh lalu masuk ke ruangan bunda Sofie. Pak Adam mengeluarkan ponsel, menelepon, aku baru berani mendekatinya.
"Vaness, tolong kirimi lagi sms-sms yang tadi. Dengan ucapan maaf sebesar-besarnya."
"Ya pada ibu. Siapa lagi?" Pak Adam menutup sambungan dan mengantongi ponsel, menatapku. Aku menatapnya. "Kacau?" tanyaku sambil menahan senyum.
"Kacau balau."
"Hmm... tapi yang tadi cantik juga." ledekku mencoba meredakan ketegangan, Pak Adam tersenyum kecil, "pantas Re marah besar. Cantik ya yang tadi?" tanya Pak Adam padaku.
"Cantik!" jawabku meyakinkan. Kami lalu bersisian menuju ruang VVIP ibu Sofie.
Di ruang itu Miss Re sedang duduk di sebuah bangku kecil di sisi ranjang Ibu Sofie, membelai-belai telapak tangannya. Aku duduk di sebuah sofa, dan Pak Adam mengambil tempat di sofa panjang di sisi kananku, memainkan ponselnya. Membuat Miss Re mengira sms-sms manis yang masuk ke ponselnya datang dari jemari Pak Adam. Padahal si Adam itu mana bisa merayu dan menciptakan kata-kata manis atau gambar lucu.
Setelah beberapa kali memeriksa ponsel dan melihat pesan-pesan manis di ponselnya. Aku bisa pastikan ketegangan di wajah Miss Re mengendur, bahkan bisa kulihat sekilas senyuman manisnya yang ia sembunyikan. Vanessa hebat. Aku menyandarkan tubuh, Pak Adam juga. Sambil masih memainkan games di ponselnya ia menyandar santai.
Sepuluh menit tak terdengar lagi nada sms ponsel Miss Re. Rupanya Vanessa sudah berhenti menyerang ponsel Miss Re. Pak Adampun sudah menguap berkali-kali. Karena terlalu letih dan mengantuk, beliau tertidur. Aku pun sangat mengantuk.
Tiba-tiba, 5 menit kemudian. Saat aku hampir tertidur, terdengar lagi suara nada sms dari ponsel Miss Re. Aku terjaga dan melihat ke arah perempuan itu. Miss Re mengerutkan keningnya, melihat layar, lalu melihat Pak Adam yang terlelap. Jantungku berdetak kencang. Masalah lagi. Miss Re dengan gagah menghampiri Pak Adam.
"Signora, jangan..." cegahku saat Miss Re mengulurkan tangan ke arah bossku. Aku tahu ia akan mengamuk. Miss Re menampik tanganku, menatap tajam mataku seolah berkata 'jangan ikut campur', jadilah aku mengangkat tangan dan menjauh. Miss Re menyebut nama bossku lengkap-lengkap. Pertanda ia marah.
"Ya, dear?"
"Hebat ya, sambil tidur bisa kirim sms!" Miss Re menunjukkan layar ponselnya, Pak Adam terkesiap. Aduuuuh... Aku menepuk jidat! Salahku juga, harusnya aku berinisiatif memberi tahu Vanessa agar tidak lagi mengirim sms sebab Pak Adam tertidur.
"Oh... itu sms terakhir sebelum saya tertidur, dear. Mungkin providernya sangat sibuk tadi." Kilah Pak Adam. Aku meringis melihat Miss Re berdiri mendominasi, menjulang di depan Pak Adam yang duduk terintimidasi di sofa.
"Apa isinya?" tanya Miss Re dingin.
"Isinya..... ehm! gambar beruang dengan..."
"Salah!!" Mataku membulat saat Miss Re menyerbu Pak Adam, jantungku melonjak mengira akan melihat adegan panas. Tahunya Miss Re sedang mencoba merebut ponsel di balik jas Pak Adam.
"Re... Re.... sayang..." keluh Pak Adam mencoba mempertahankan ponselnya, tapi Miss Re berhasil merebut. Ia menggeleng-geleng mendapati ponsel itu berisi provider Italia, bukan dari ponsel yang mengiriminya sms-sms manis. Ia lalu menelepon sambil terus menatapi Pak Adam yang menangkup ke dua tangan di wajahnya.
"Vanessa! Ini bukan Pak Adam." kata Miss Re pastinya memotong celoteh Vanessa yang cerewet. Kubayangkan Vanessa di Jakarta pasti langsung gemetar dan serta merta meracau minta maaf.
"Ya sudah." kata Miss Re lalu menutup sambungan. Ia mengembalikan ponsel Pak Adam, mengambil tasnya lalu keluar. Pak Adam serta merta mengejar. Aku menunggu saja di ruangan ber AC itu. Lelah dengan pengejaran si James Bond satu ini. Lima belas menit kemudian bossku kembali tanpa bidadarinya. Ia langsung mengempaskan tubuh di sofa dan menutup matanya.
Dan hari ini, Pak Adam mengulangi tingkah yang sama; meminta sekretarisnya mengirimi permintaan maaf pada Miss Re yang murka. Aku heran.... apa dia nggak kapok? Tapi dia juga terlalu tidak mampu membujuk dan merayu wanita. Pak Adam totally tidak romantis, dan tidak punya waktu. Tapi cintanya serius hanya untuk satu wanita.
Dari kejauhan aku melihat Pak Adam sudah berhasil menjajari Miss. Re, ia meyakinkan wanita itu bahwa dirinya mengira wanita tadi adalah Miss Re. Miss Re dengan sadis melengos saja membuang muka. Aku berhenti di tempat karena mereka berdua berhenti di lorong sepi, Miss Re terlihat memuntahkan kata-kata dengan emosi meluap. Intinya ia tidak terima karena Pak Adam mengucapkan "kami akan menikah", apalagi kemudian kakeknya mendengar kalimat itu. Miss Re menuntut dengan kesal 'bagaimana ini?'
Pak Adam dengan serius menjawab, 'ya lakukan saja.' Itu membuat Miss Re melempar Pak Adam dengan tas tangannya lalu melangkah kesal. Pak Adam, dengan tas tangan wanita di kedua tangannya menggeleng-geleng menatap bidadari ngamuk itu menjauh lalu masuk ke ruangan bunda Sofie. Pak Adam mengeluarkan ponsel, menelepon, aku baru berani mendekatinya.
"Vaness, tolong kirimi lagi sms-sms yang tadi. Dengan ucapan maaf sebesar-besarnya."
"Ya pada ibu. Siapa lagi?" Pak Adam menutup sambungan dan mengantongi ponsel, menatapku. Aku menatapnya. "Kacau?" tanyaku sambil menahan senyum.
"Kacau balau."
"Hmm... tapi yang tadi cantik juga." ledekku mencoba meredakan ketegangan, Pak Adam tersenyum kecil, "pantas Re marah besar. Cantik ya yang tadi?" tanya Pak Adam padaku.
"Cantik!" jawabku meyakinkan. Kami lalu bersisian menuju ruang VVIP ibu Sofie.
Di ruang itu Miss Re sedang duduk di sebuah bangku kecil di sisi ranjang Ibu Sofie, membelai-belai telapak tangannya. Aku duduk di sebuah sofa, dan Pak Adam mengambil tempat di sofa panjang di sisi kananku, memainkan ponselnya. Membuat Miss Re mengira sms-sms manis yang masuk ke ponselnya datang dari jemari Pak Adam. Padahal si Adam itu mana bisa merayu dan menciptakan kata-kata manis atau gambar lucu.
Setelah beberapa kali memeriksa ponsel dan melihat pesan-pesan manis di ponselnya. Aku bisa pastikan ketegangan di wajah Miss Re mengendur, bahkan bisa kulihat sekilas senyuman manisnya yang ia sembunyikan. Vanessa hebat. Aku menyandarkan tubuh, Pak Adam juga. Sambil masih memainkan games di ponselnya ia menyandar santai.
Sepuluh menit tak terdengar lagi nada sms ponsel Miss Re. Rupanya Vanessa sudah berhenti menyerang ponsel Miss Re. Pak Adampun sudah menguap berkali-kali. Karena terlalu letih dan mengantuk, beliau tertidur. Aku pun sangat mengantuk.
Tiba-tiba, 5 menit kemudian. Saat aku hampir tertidur, terdengar lagi suara nada sms dari ponsel Miss Re. Aku terjaga dan melihat ke arah perempuan itu. Miss Re mengerutkan keningnya, melihat layar, lalu melihat Pak Adam yang terlelap. Jantungku berdetak kencang. Masalah lagi. Miss Re dengan gagah menghampiri Pak Adam.
"Signora, jangan..." cegahku saat Miss Re mengulurkan tangan ke arah bossku. Aku tahu ia akan mengamuk. Miss Re menampik tanganku, menatap tajam mataku seolah berkata 'jangan ikut campur', jadilah aku mengangkat tangan dan menjauh. Miss Re menyebut nama bossku lengkap-lengkap. Pertanda ia marah.
"Ya, dear?"
"Hebat ya, sambil tidur bisa kirim sms!" Miss Re menunjukkan layar ponselnya, Pak Adam terkesiap. Aduuuuh... Aku menepuk jidat! Salahku juga, harusnya aku berinisiatif memberi tahu Vanessa agar tidak lagi mengirim sms sebab Pak Adam tertidur.
"Oh... itu sms terakhir sebelum saya tertidur, dear. Mungkin providernya sangat sibuk tadi." Kilah Pak Adam. Aku meringis melihat Miss Re berdiri mendominasi, menjulang di depan Pak Adam yang duduk terintimidasi di sofa.
"Apa isinya?" tanya Miss Re dingin.
"Isinya..... ehm! gambar beruang dengan..."
"Salah!!" Mataku membulat saat Miss Re menyerbu Pak Adam, jantungku melonjak mengira akan melihat adegan panas. Tahunya Miss Re sedang mencoba merebut ponsel di balik jas Pak Adam.
"Re... Re.... sayang..." keluh Pak Adam mencoba mempertahankan ponselnya, tapi Miss Re berhasil merebut. Ia menggeleng-geleng mendapati ponsel itu berisi provider Italia, bukan dari ponsel yang mengiriminya sms-sms manis. Ia lalu menelepon sambil terus menatapi Pak Adam yang menangkup ke dua tangan di wajahnya.
"Vanessa! Ini bukan Pak Adam." kata Miss Re pastinya memotong celoteh Vanessa yang cerewet. Kubayangkan Vanessa di Jakarta pasti langsung gemetar dan serta merta meracau minta maaf.
"Ya sudah." kata Miss Re lalu menutup sambungan. Ia mengembalikan ponsel Pak Adam, mengambil tasnya lalu keluar. Pak Adam serta merta mengejar. Aku menunggu saja di ruangan ber AC itu. Lelah dengan pengejaran si James Bond satu ini. Lima belas menit kemudian bossku kembali tanpa bidadarinya. Ia langsung mengempaskan tubuh di sofa dan menutup matanya.
Dan hari ini, Pak Adam mengulangi tingkah yang sama; meminta sekretarisnya mengirimi permintaan maaf pada Miss Re yang murka. Aku heran.... apa dia nggak kapok? Tapi dia juga terlalu tidak mampu membujuk dan merayu wanita. Pak Adam totally tidak romantis, dan tidak punya waktu. Tapi cintanya serius hanya untuk satu wanita.
Senin, 07 September 2009
Pertanda Buruk
Pak Adam pagi ini muncul dengan tampang prima, seperti biasa. Tapi seperti sering terlihat juga matanya kosong. Hari ini mata Pak Adam bukan sekedar kosong, tapi lelah dan sendu. Apa efek lembur semalam? Tapi kan si maniak ini memang cuma biasa tidur 4 jam sehari. Cuma satu hal yang membuat Pak Adam berpenampilan seperti itu? Tunangannya.
Hmmmphh...... Begitu datang, beliau menghempas tubuh di kursi presiden yang besar dan kokoh itu. Seperti orang kelelahan, menyandar di sana. Biasanya dia langsung aktif mengecek sana-sini, menanyakan agenda dan langsung tekun bekerja.
Aku, yang sudah bertahun-tahun jadi asisten pribadinya sudah hapal betul. Pak Adam cuma bisa lumpuh begini kalau tunangannya, Pak Adam suka menyebut namanya dengan satu huruf konsonan dan satu vokal; Re. Kalau Re bertindak 'nakal'.
Pak Adam biasa mengatasi hal-hal rumit yang terjadi di kantor. Dengan pintar menyelesaikan masalah-masalah, kehebohan-kehebohan, tragedi atau pesta. Tapi menghadapi perempuan satu itu, Pak Adam bisa dibuat terbanting-banting mentalnya. Bikin aku sebal, kesal dan heran.
Apa susahnya sih cari perempuan lain? Buat Pak Adam itu sekedar menjentikkan tangan saja. Kenapa harus membiarkan satu orang perempuan melumpuhkannya? Bukannya itu menyedihkan?
Perempuan itu, yang dengan irit namanya cuma disebut 'Re', padahal cuma seorang perempuan berumur 25 an. Perbedaan umur yang jauh sepertinya punya andil membuat hubungan mereka pelik. Mau tau seperti apa perempuan yang bertahun-tahun menggonjang-ganjing jagat Presiden perusahaan Internasional?
Ya ampun.... cuma cewek biasa. Cantik sih. Manis memang. Pintar juga iya. Cerdas juga. Tapi bukan kalangan jet setter. Penampilannya selayaknya wanita manis yang punya tunangan milioner. Dia, sama seperti tunangannya, tidak suka dugem, tidak merokok dan tidak mabuk-mabukan.
Kalau muncul di Italia, dia mengenakan busana atau gaun (tergantung di acara apa dia muncul) karya desainer terkenal, dengan warna-warna kalem, desain kalem atau manis, berkelas. Jarang terlihat belahan dada atau seluruh bahunya. Menenteng tas wanita yang bagus, dengan high heels yang tidak terlalu tinggi atau boot yang cantik.
Warna-warni di mukanya kalem saja, kalau harus ke toko untuk belanja, ia nyaris tak ber make-up. Kalau muncul di pesta yang glamor maka make-up nya natural dan ia selalu berpenampilan seperti dewi-dewi Yunani yang bersahaja. Dengan perhiasan berdisain manis. Lha.... kalau sedang muncul di pesta mewah barulah wanita Aseli Indonesia ini terlihat menonjol.
Maksudku, lekuk tubuhnya, dadanya menonjol hahahahaha.... rupawan sekali! Aku sadari bahwa wanita ini aduhai juga saat pertama kali Miss. Re muncul di pesta di Roma bertahun-tahun lalu. Maksudnya... lekuknya aduhai.
Aku dibuat iri setengah mampus melihat bosku melingkarkan tangan di pinggangnya yang ramping tapi berkurva. Seperti.... mencontek gambaran norak dari buku-buku; lekok biola mewah, seperti kurva S yang sempurna. Perempuan itu kontan terlihat sangat wanita saat tubuhnya berpadu dengan tubuh Pak Adam yang tinggi besar. Terlihat seperti Aphrodite dipeluk Dewa perang. Begitu mungil, lembut, seksi, perlu dipeluk, perlu dilindungi.
Selain lekuk tubuhnya bagus, Miss yag satu ini juga sangat attractive kalau sedang tersenyum. Ada sepasang lesung pipi yang pasti membuat semua mata tertancap di sana. Kadang aku maklum kenapa Pak Adam menggilai wanita muda ini.
Bagaimana tidak? Aku saja kadang menghayalkan tunangan bosku ini. Menghayalkan keempukan tubuhnya, keempukan suaranya, kira-kira bagaimana dia bertingkah di tempat tidur. Apa semanis penampilannya yang bak dewi yunani? Atu justru berubah total?
Sayangnya, bosku kurang beruntung karena sepertinya nona muda ini tidak terlalu mencintainya. Tidak terlalu mencintai atau total tidak mencintai tepatnya? hehehehe.... Nona muda ini suka sekali membuat keributan dalam hubungan mereka. Suka sekali membuat bosku lumpuh di kursi Presidennya (meski di depan semua karyawan lain dia tidak pernah memperlihatkan kelemahan itu).
Nona ini punya PIL (Pria Idaman Lain), begitu yang aku simpulkan setelah bekerja dengan Pak Adam bertahun-tahun. Aku pribadi belum pernah melihat seperti apa PIL Miss Re. Teorinya kalau seorang wanita menolak pria kaya raya yang muda dan cerdas demi pria lain. Pastilah si pria lain itu lebih dari sekedar kaya raya, muda dan cerdas 'kan? Mungkin dia pengusaha sukses di Indonesia? Yang perusahaannya telah ekspansi ke penjuru dunia.
Kalau memang begitu, tentu saja Pak Adam kalah. Meski kemana-mana naik pesawat jet, tapi itu kan fasilitas kantor. Meski digit gajinya mencengangkan, tapi Pak Adam sekedar presiden dan bukan pemilik perusahaan.
Masalahnya Pak Adam tak mau melepas Miss Re begitu saja. Pak Adam yang notabenenya masih terikat saudara jauh dengan wanita ini sudah mencintainya sejak mereka kecil. Oh My God.... what a terrible romance!
Yang aku tahu Pak Adam juga tidak mengencani wanita lain. Sesekali Pak Adam keluar dengan puteri bungsu pemilik perusahaan ini, namanya..... sebut saja... Paris lah! Sebab lagak-lagu nya cewek satu ini setengil Paris Hilton. Sama-sama puteri milyoner, sama-sama antik, sama-sama bertubuh garing, suka pesta, dugem dan mabuk.
Pak Adam keluar dengan Paris dengan setengah hati. Si bungsu ini manjanya setengah mati, egois, nakal, binal. Pak Adam sering geram dengan cara Paris memepetnya. Aku sih ngiler... karena Paris model yang cantik. dan kebinalannya itu sungguh menggoda.
Paris jatuh cinta pada Pak Adam sejak pertama kali Pak Adam datang ke Roma, sayangnya Pak Adam sampai hari ini, setelah bertahun-tahun tinggal di negara ini, masih belum tertarik mengencani super model itu.
Hmmmphh...... Begitu datang, beliau menghempas tubuh di kursi presiden yang besar dan kokoh itu. Seperti orang kelelahan, menyandar di sana. Biasanya dia langsung aktif mengecek sana-sini, menanyakan agenda dan langsung tekun bekerja.
Aku, yang sudah bertahun-tahun jadi asisten pribadinya sudah hapal betul. Pak Adam cuma bisa lumpuh begini kalau tunangannya, Pak Adam suka menyebut namanya dengan satu huruf konsonan dan satu vokal; Re. Kalau Re bertindak 'nakal'.
Pak Adam biasa mengatasi hal-hal rumit yang terjadi di kantor. Dengan pintar menyelesaikan masalah-masalah, kehebohan-kehebohan, tragedi atau pesta. Tapi menghadapi perempuan satu itu, Pak Adam bisa dibuat terbanting-banting mentalnya. Bikin aku sebal, kesal dan heran.
Apa susahnya sih cari perempuan lain? Buat Pak Adam itu sekedar menjentikkan tangan saja. Kenapa harus membiarkan satu orang perempuan melumpuhkannya? Bukannya itu menyedihkan?
Perempuan itu, yang dengan irit namanya cuma disebut 'Re', padahal cuma seorang perempuan berumur 25 an. Perbedaan umur yang jauh sepertinya punya andil membuat hubungan mereka pelik. Mau tau seperti apa perempuan yang bertahun-tahun menggonjang-ganjing jagat Presiden perusahaan Internasional?
Ya ampun.... cuma cewek biasa. Cantik sih. Manis memang. Pintar juga iya. Cerdas juga. Tapi bukan kalangan jet setter. Penampilannya selayaknya wanita manis yang punya tunangan milioner. Dia, sama seperti tunangannya, tidak suka dugem, tidak merokok dan tidak mabuk-mabukan.
Kalau muncul di Italia, dia mengenakan busana atau gaun (tergantung di acara apa dia muncul) karya desainer terkenal, dengan warna-warna kalem, desain kalem atau manis, berkelas. Jarang terlihat belahan dada atau seluruh bahunya. Menenteng tas wanita yang bagus, dengan high heels yang tidak terlalu tinggi atau boot yang cantik.
Warna-warni di mukanya kalem saja, kalau harus ke toko untuk belanja, ia nyaris tak ber make-up. Kalau muncul di pesta yang glamor maka make-up nya natural dan ia selalu berpenampilan seperti dewi-dewi Yunani yang bersahaja. Dengan perhiasan berdisain manis. Lha.... kalau sedang muncul di pesta mewah barulah wanita Aseli Indonesia ini terlihat menonjol.
Maksudku, lekuk tubuhnya, dadanya menonjol hahahahaha.... rupawan sekali! Aku sadari bahwa wanita ini aduhai juga saat pertama kali Miss. Re muncul di pesta di Roma bertahun-tahun lalu. Maksudnya... lekuknya aduhai.
Aku dibuat iri setengah mampus melihat bosku melingkarkan tangan di pinggangnya yang ramping tapi berkurva. Seperti.... mencontek gambaran norak dari buku-buku; lekok biola mewah, seperti kurva S yang sempurna. Perempuan itu kontan terlihat sangat wanita saat tubuhnya berpadu dengan tubuh Pak Adam yang tinggi besar. Terlihat seperti Aphrodite dipeluk Dewa perang. Begitu mungil, lembut, seksi, perlu dipeluk, perlu dilindungi.
Selain lekuk tubuhnya bagus, Miss yag satu ini juga sangat attractive kalau sedang tersenyum. Ada sepasang lesung pipi yang pasti membuat semua mata tertancap di sana. Kadang aku maklum kenapa Pak Adam menggilai wanita muda ini.
Bagaimana tidak? Aku saja kadang menghayalkan tunangan bosku ini. Menghayalkan keempukan tubuhnya, keempukan suaranya, kira-kira bagaimana dia bertingkah di tempat tidur. Apa semanis penampilannya yang bak dewi yunani? Atu justru berubah total?
Sayangnya, bosku kurang beruntung karena sepertinya nona muda ini tidak terlalu mencintainya. Tidak terlalu mencintai atau total tidak mencintai tepatnya? hehehehe.... Nona muda ini suka sekali membuat keributan dalam hubungan mereka. Suka sekali membuat bosku lumpuh di kursi Presidennya (meski di depan semua karyawan lain dia tidak pernah memperlihatkan kelemahan itu).
Nona ini punya PIL (Pria Idaman Lain), begitu yang aku simpulkan setelah bekerja dengan Pak Adam bertahun-tahun. Aku pribadi belum pernah melihat seperti apa PIL Miss Re. Teorinya kalau seorang wanita menolak pria kaya raya yang muda dan cerdas demi pria lain. Pastilah si pria lain itu lebih dari sekedar kaya raya, muda dan cerdas 'kan? Mungkin dia pengusaha sukses di Indonesia? Yang perusahaannya telah ekspansi ke penjuru dunia.
Kalau memang begitu, tentu saja Pak Adam kalah. Meski kemana-mana naik pesawat jet, tapi itu kan fasilitas kantor. Meski digit gajinya mencengangkan, tapi Pak Adam sekedar presiden dan bukan pemilik perusahaan.
Masalahnya Pak Adam tak mau melepas Miss Re begitu saja. Pak Adam yang notabenenya masih terikat saudara jauh dengan wanita ini sudah mencintainya sejak mereka kecil. Oh My God.... what a terrible romance!
Yang aku tahu Pak Adam juga tidak mengencani wanita lain. Sesekali Pak Adam keluar dengan puteri bungsu pemilik perusahaan ini, namanya..... sebut saja... Paris lah! Sebab lagak-lagu nya cewek satu ini setengil Paris Hilton. Sama-sama puteri milyoner, sama-sama antik, sama-sama bertubuh garing, suka pesta, dugem dan mabuk.
Pak Adam keluar dengan Paris dengan setengah hati. Si bungsu ini manjanya setengah mati, egois, nakal, binal. Pak Adam sering geram dengan cara Paris memepetnya. Aku sih ngiler... karena Paris model yang cantik. dan kebinalannya itu sungguh menggoda.
Paris jatuh cinta pada Pak Adam sejak pertama kali Pak Adam datang ke Roma, sayangnya Pak Adam sampai hari ini, setelah bertahun-tahun tinggal di negara ini, masih belum tertarik mengencani super model itu.
Aku, meski sejak lahir sampai lulus sekolah tinggal di Indonesia, masih belum bisa memahami jalan pikiran boss ku. Bagaimana pria sendirian yang tinggal jauh dari keluarga tidak selingkuh dari tunangannya?
Akhirnya pagi ini, walau tidak ditanya, aku mengingatkan Pak Adam akan skedulnya hari ini. Pak Adam mendengarkan dengan lesu, setelah selesai membacakan, aku sebagai salah seorang terdekatnya akhirnya bertanya; "Apa bapak sehat?" dia baru bergerak sedikit, melihatku.
"Kelihatannya?" Dia balik tanya, membuatku berkedip dua kali, memilih jujur atau bohong. "Tidak baik," jawabku memilih jujur.
"Begitulah."
"Signoritta?" tanyaku sambil menunjuk pigura kecil di atas meja mewahnya yang lebar.
"Rumit ya?" Pasti maksudnya yang rumit adalah sikap wanita. Bagiku sih tak ada yang rumit; kalau mereka bertingkah, tinggalkan saja!
"Hal yang rumit itu harus digarap dengan kesabaran dan ketelitian kan?" Kataku sebenarnya karena nggak tahu harus komentar apa.
"Lalu?" pancing Pak Adam sambil menegakkan duduknya. Aku bergegas membantu menyalakan desktop dan laptopnya. "Lalu? Hmm... apa ya?" aku berpikir sambil terus bergerak menyalakan perlatan kerja presiden. "Ya.... Kalau tak berhasil menggarapnya, berikan saja pada bawahan untuk menggarapnya." Detik kemudian aku sadari ocehanku tadi total ngaco, reaksi Pak Adam adalah melayangkan tonjokan pelan ke bahu kananku.
"Enak saja!" serunya, aku cengengesan.
Sepanjang hari ini aku hampir-hampir tak mengerjakan pekerjaan apapun, Pak Adam memerintahkan supaya aku terus menerus mencoba menghubungi wanitanya yang sepertinya sedang marah besar. Pak Adam saja tak berhasil menghubunginya. Apalagi aku. Sampai mual aku mendengarkan nada sambung ponselnya. Ketika akhirnya aku mendengar suara wanita itu, girang bukan kepalang dan berlonjak-lonjak jantungku. Sampai-sampai aku lupa mengubah mode lidahku dari Italia ke English dan itu membuat si nona cantik dengan tak sabar menginterupsi; "You know I can't speak Italy, don't you?"
"Bapak berkenan bicara dengan anda, signoritta." kataku akhirnya dalam bahasa Indonesia, sambil membayangkan sosok wanita di seberang sambungan.
"Please tell him to call me back later, I'm in a class." Katanya buru-buru, aku baru membuka mulut untuk bertanya jam berapa dia bersedia dihubungi lagi, tapi sudah terdengar sambungan terputus. Membuat hatiku merasa nelangsa. Apa yang harus aku laporkan pada Pak Adam; dia minta dihubungi lagi nanti. 'Kapan?' masak aku jawab 'mana aku tahu?'
Ajudan pantang menjawab 'aku tidak tahu' mengenai janji-janji, skedul dan rencana-rencana. Jadi aku menelepon lagi seperti orang gila nomor miss satu itu, dan ia sama sekali tidak menggubris. Tak habis akal, aku sms dia dari hp pribadiku.
Selamat sore, Signoritta. Pukul berapa sebaiknya saya menghubungi agar bapak dapat bicara dengan anda?
Aku menunggu dengan resah untuk jawabannya, sambil menghitung-hitung dengan jari, apa benar di Jakarta sudah sore. Ketika masuk sebuah sms darinya, aku bergegas membuka.
Aku yang akan menghubungi kalau sudah tepat saatnya.
Aku lemas membaca itu, pernah dulu nona ini menjawab hal yang sama, dan sampai seminggu kemudian dia belum menelepon dan menolak panggilan kami. Membuat aku harus menemani Pak Adam berbaring malam-malam di pinggir sungai dalam rangka mendinginkan kepala dan hatinya. Membuat aku masuk angin dan kedinginan. Ini pertanda buruk.
Minggu, 06 September 2009
Who 'Andrez Moreno' is?
It's my 1st blog. Hope you'll like this simple blog.
Blog ini se simpel saya, si pemilik. Saya nggak suka merias rumah, menghias mobil ataupun menghias blog. Awalnya mau punya blog saja cuma disimpan di angan-angan. Bagaimana tidak? Ritme kerja saya sebagai ajudan President Director perusahaan kimia yang punya 14 cabang sejagat raya benar-benar Hmmmmpppph.......... (apalagi si bapak presiden ya?)
Kantor pusat kami ada di ibu kota Italia. Tapi jangan heran kalau saya beri tahu hal yang satu ini; president director saya (eh kami) itu orang Indonesia ASELI! (saking aslinya pakai 'E'). Bahkan saya si ajudannya saja campur-campur Italia, Indonesia, Portugis. Tapi meski campur aduk, hati saya INDONESIA, meski sekarang tinggal di Itali demi pekerjaan (Baca: demi gaji tinggi).
Saya tidak mungkin menyebut nama si presiden saya dengan real namenya, seperti saya juga tak mungkin memberi tahu nama perusahaan. Sebab apa yang saya tulis di blog ini nantinya mungkin bertautan bukan hanya dengan hidup saya, tapi juga si bos yang mengisi 24 jam selama 7 hari kehidupan saya, tunangan si bos (yang alamaaaaak..... beautiful), dan juga perusahaan. Jadi sebut saja bos saya dengan nama........ Adam (1st man in this world as the 1st man in my company).
Setelah bertahun-tahun memendam keinginan punya blog, hari ini saya nekat merealisasikannya. Meski tak yakin bisa masukkan posting regularly. So, kalian pembaca harap maklum ya? Meski demikian sedapat mungkin saya akan berusaha keras menulis cerita-cerita, pengalaman, unek-unek atau apapun. Tapi jangan lupa di komentari ya?
Saya lahir di Indonesia, sampai SMA. Lalu kuliah di kampung halaman papa di Italia. Bekerja di sana, sampai akhirnya mengasisteni si bapak direktur ini. Bapak Adam sih lahir dan besar di Indonesia, merintis karir di kantor cabang Jakarta kami, menanjak terus jadi GM, lalu ditarik ke pusat karena prestasi gemilang dan otak cemerlangnya. Mode iri on!
Bukan sekedar karirnya yang bikin iri. Kehidupannya. Ketenarannya diantara cewe-cewe di sini juga bikin iri! Pak Adam dipepet jenis wanita beikut ini; eksekutif yang berotak penuh, bintang film dan model yang berdada penuh. Tahu aku iri pada keberuntungannya, Pak Adam selalu bertanya; "kamu mau dia? ambil saja!" begitu katanya dengan enteng. Pak Adam memang jenis pria langka dengan sifat mengherankan; cinta mati sama satu orang. Norak amat ya??
Kehidupan percintaan? Saya punya dua orang pacar; yang satu tinggal di Turin yang satu lagi di Roma. Punya pacar di kota yang sama memang enak rasanya; bisa bertemu begitu ada waktu luang, meski hanya cukup untuk french kisses sambil saling raba. Tapi yang menyebalkan; mata-matanya di mana-mana. Membuat susah bertindak jauh dengan wanita-wanita yang sedang memepet Pak Adam. ;)
Pulang ke Indonesia? Dulu sih sering sekali. Tapi beberapa tahun jadi jarang sejak ditemukannya 3G, persis seperti cara menyidang penjahat kelas kakap di Italia; si penjahat tidak dibawa ke ruang sidang melainkan melalui 3G. Begitu juga cara rapat antar cabang, cukup melalui 3G. Jadi makin jarang pulang ke Indonesia.
Tapi saya sebenarnya bercita-cita untuk pulang dan menetap di Indonesia nanti (mungkin di hari tua). Saya selalu merindukan iklim tropis, air kelapa, rendang, apapun yang asli Indonesia kecuali kemacetannya.
Cukuplah dulu pembukaan blog ini. Sebenarnya pendorong utama saya nekat membuat blog adalah seorang wanita Indonesia yang manis dan sempurna (menurut saya), selain itu juga pekerjaan dan orang-orang menarik di perusahaan ini yang sepertinya seru untuk dibaca mereka yang suka baca.
Blog ini se simpel saya, si pemilik. Saya nggak suka merias rumah, menghias mobil ataupun menghias blog. Awalnya mau punya blog saja cuma disimpan di angan-angan. Bagaimana tidak? Ritme kerja saya sebagai ajudan President Director perusahaan kimia yang punya 14 cabang sejagat raya benar-benar Hmmmmpppph.......... (apalagi si bapak presiden ya?)
Kantor pusat kami ada di ibu kota Italia. Tapi jangan heran kalau saya beri tahu hal yang satu ini; president director saya (eh kami) itu orang Indonesia ASELI! (saking aslinya pakai 'E'). Bahkan saya si ajudannya saja campur-campur Italia, Indonesia, Portugis. Tapi meski campur aduk, hati saya INDONESIA, meski sekarang tinggal di Itali demi pekerjaan (Baca: demi gaji tinggi).
Saya tidak mungkin menyebut nama si presiden saya dengan real namenya, seperti saya juga tak mungkin memberi tahu nama perusahaan. Sebab apa yang saya tulis di blog ini nantinya mungkin bertautan bukan hanya dengan hidup saya, tapi juga si bos yang mengisi 24 jam selama 7 hari kehidupan saya, tunangan si bos (yang alamaaaaak..... beautiful), dan juga perusahaan. Jadi sebut saja bos saya dengan nama........ Adam (1st man in this world as the 1st man in my company).
Setelah bertahun-tahun memendam keinginan punya blog, hari ini saya nekat merealisasikannya. Meski tak yakin bisa masukkan posting regularly. So, kalian pembaca harap maklum ya? Meski demikian sedapat mungkin saya akan berusaha keras menulis cerita-cerita, pengalaman, unek-unek atau apapun. Tapi jangan lupa di komentari ya?
Saya lahir di Indonesia, sampai SMA. Lalu kuliah di kampung halaman papa di Italia. Bekerja di sana, sampai akhirnya mengasisteni si bapak direktur ini. Bapak Adam sih lahir dan besar di Indonesia, merintis karir di kantor cabang Jakarta kami, menanjak terus jadi GM, lalu ditarik ke pusat karena prestasi gemilang dan otak cemerlangnya. Mode iri on!
Bukan sekedar karirnya yang bikin iri. Kehidupannya. Ketenarannya diantara cewe-cewe di sini juga bikin iri! Pak Adam dipepet jenis wanita beikut ini; eksekutif yang berotak penuh, bintang film dan model yang berdada penuh. Tahu aku iri pada keberuntungannya, Pak Adam selalu bertanya; "kamu mau dia? ambil saja!" begitu katanya dengan enteng. Pak Adam memang jenis pria langka dengan sifat mengherankan; cinta mati sama satu orang. Norak amat ya??
Kehidupan percintaan? Saya punya dua orang pacar; yang satu tinggal di Turin yang satu lagi di Roma. Punya pacar di kota yang sama memang enak rasanya; bisa bertemu begitu ada waktu luang, meski hanya cukup untuk french kisses sambil saling raba. Tapi yang menyebalkan; mata-matanya di mana-mana. Membuat susah bertindak jauh dengan wanita-wanita yang sedang memepet Pak Adam. ;)
Pulang ke Indonesia? Dulu sih sering sekali. Tapi beberapa tahun jadi jarang sejak ditemukannya 3G, persis seperti cara menyidang penjahat kelas kakap di Italia; si penjahat tidak dibawa ke ruang sidang melainkan melalui 3G. Begitu juga cara rapat antar cabang, cukup melalui 3G. Jadi makin jarang pulang ke Indonesia.
Tapi saya sebenarnya bercita-cita untuk pulang dan menetap di Indonesia nanti (mungkin di hari tua). Saya selalu merindukan iklim tropis, air kelapa, rendang, apapun yang asli Indonesia kecuali kemacetannya.
Cukuplah dulu pembukaan blog ini. Sebenarnya pendorong utama saya nekat membuat blog adalah seorang wanita Indonesia yang manis dan sempurna (menurut saya), selain itu juga pekerjaan dan orang-orang menarik di perusahaan ini yang sepertinya seru untuk dibaca mereka yang suka baca.
Langganan:
Postingan (Atom)
